Kotretan
.....dan tak usah kau tanyakan arti dan makna, jangan pula kau perdebatkan tentang kebenaran maupun keburukan apalagi berharap akan manfaat dari ke dua puluh enam huruf yang aku susun menjadi kata yang terangkum dalam sebuah kalimat.....
Sabtu, 21 Desember 2013
Travel to the Southern part of West Bandung (Part I)
Minggu lalu, Jum'at 14 Desember 2013
Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, dan semuanya sudah diatur sesuai dengan catatan yang tersimpan didalam server kehidupan.... entah dimana.
Rintik hujan yang turun sejak selepas tengah hari, sedikit membuat dingin suasana alam pikir dan ketenangan jiwa. Secangkir kopi hitam dan sebatang rokok kretek produksi pabrikan besar yang pemiliknya merupakan jajaran orang terkaya di Negeri ini, entah sudah batang yang keberapa. Dimana dari setiap batangnya di kutip pajak cukai sebesar 275 rupiah dan disetorkan kepada Kas Negara.
Kubayangkan pula para buruh tani tembakau, buruh tani perkebunan cengkeh, kuli angkut, buruh pabrik pelinting rokok, tukang becak, dan semua orang yang terlibat dalam proses pembuatan rokok kretek yang sedang kuhisap ini... sedang apa mereka sekarang? Apakah sama seperti diriku yang sedang berbahagia, atau malah sedang bingung kemana harus membeli beras untuk makan hari ini?.... ahhhh, terlalu jauh melayang dan membuang waktu bila memikirkan setiap kesusahan mereka. Toh dalam kehidupan selalu berpasangan, ada senang dan ada susah.
Yang jelas pada hari itu, aku nikmati saja secangkir kopi hitam dan sebatang rokok kretek pabrikan perusahaan besar yang sudah banyak mengeruk keuntungan dan melibatkan banyak orang dalam proses pembuatannya.
Sambil menanti Kang Rofrof sang fotografer dan seorang kawan bernama Rida yang berambut sedikit ikal gimbal, untuk menjelajah Bandung Barat bagian Selatan... untuk sekedar menyalurkan hobi, minat dan bakat :)
Selepas Ashar barulah mereka tiba, mengendarai 'Robinhood' milik kang David, pria tambun berambut panjang yang aktif dibidang lingkungan hidup ( kami menyebutnya titisan Franz Wilhelm Junghun :p ).
Robinhood merupakan sebutan untuk Mobil Land Rover pabrikan Inggris keluaran tahun 1970 berwarna burik (warna dasarnya abu-abu, namun sudah gak karuan.... bwahahaha).
Setelah ngopi sejenak dan menghabiskan beberapa batang rokok dan tertidur lelap barang sekejap, selepas Maghrib kami berangkat menuju kediaman kang David di daerah Sukamiskin Bandung untuk mengambil logistik untuk bantuan sosial dan bekal perjalanan. Hujan setengah deras masih mengguyur tanah... Robinhood melaju dengan gagahnya.
Hayam Pelung
Kongkorongokkkkk...oooo...ooo
Kitu kinten-kinten disadana
Dilongok ka kandang
Basa harita di Lebak Bolang
Kongkorongokkkkk...oooo...ooo
Panasaran guling gasahan
Bener katawisna mah
Eta sora Hayam Pelung!
Lembang, 18 Desember 2013
Wanci Tahrim
Sabtu, 04 Mei 2013
S-1
kita lahir sebagai dongeng
masa lalu
masa kini
masa yang akan datang
masa dimana kita harus pulang
istirah......
====================
040513-015
Kamis, 11 April 2013
FIKMIN : Peupeujeuh basa harita
#basa harita dina luhur ranjang keur paduduaan, kuring nyarita ka manehna bari ngusapan tilas cimata na nu ngeclak tina soca. Karunya sabenerna mah, ngan kapaksa kuring bebeja rek ningggalkeun manehna nepi ka waktos nu teu bisa ditangtukeun. Kuring peupeujeuh ulah lesot tina jalan agama na. Da Kuring percaya yen Alloh mah moal mere cocoba diluar bates kamampuan manehna. Ngan ceuk tadi tea, geuningan sabar teh aya batesna. Manehna teu kuat ku cocoba eta, sanajan unggal tiap poena sujud lima waktu oge#
Selasa, 08 Mei 2012
Kawan Dalam Tempurung
keluarlah sobat...untuk waktu yang lama,
rasakan semua penderitaan diluar tempurungmu
dan kembalilah sampai akhirnya
kau tak sanggup lagi untuk bertahan....
hingga akhirnya hanya kepadaNya
engkau akan tunduk.....
Jumat, 09 Maret 2012
sore itu depan rumah
kumpulan bocah disana
bermain petak umpet
sebagian membaca buku
lainnya bermain kelereng
dan ketika senja menjelang
mereka bermain ular naga
naga air.....
Selasa, tanggal tujuh bulan dua tahun duaribu duabelas
menjelang dinihari
bermain petak umpet
sebagian membaca buku
lainnya bermain kelereng
dan ketika senja menjelang
mereka bermain ular naga
naga air.....
Selasa, tanggal tujuh bulan dua tahun duaribu duabelas
menjelang dinihari
Kamis, 05 Januari 2012
Transformasi diri seorang pemimpin
Seorang Menteri Norwegia, Raymon Johansen, seorang politisi muda yang enerjik, kompeten, charmingdan populer. Dengan bangga menjawab pertanyaan dari Dr. Dino Patti DJalal ketika ditanya apa pekerjaan beliau sehari-harinya sebagai "Tukang ledeng!".
Semua orang, apapun pendidikan dan pekerjaannya, dapat menjadi seorang pemimpin. Namun begitu menjadi pemimpin, ia harus bisa beradaptasi terhadap tuntutan tugas barunya.
Paul Wolfowitz (mantan dubes AS di Indonesia, Menhan AS dan Presiden Bank Dunia), pernah menyatakan pada Dr. Alwi Shihab, waktu itu beliau Menlu pada era Gus Dur, "bahwa tantangan Gus Dur yang paling utama adalah bagaimana beliau dapat berpikir, berucap dan bertindak sebagai Presiden Republik Indonesia dan bukan lagi berpikir, berucap dan bertindak sebagai Kiai tersohor atau komentator yang cerdik". Ucapan Paul Wolfowitz tersebut tidak saja berlaku bagi Gus Dur, tapi bagi semua orang yang ingin menjadi pemimpin yang efektif. Yang penting bukan apa pekerjaan sebelumnya, namun apakah seseorang mampu melakukan transformasi diri dalam lingkungan barunya.
Dengan itulah, Lech Walesa, seorang tukang listrik di pelabuhan Gdansk, sukses menjadi Presiden Polandia dan memenagkan Nobel Perdamaian. Dengan itulah, Ronald Reagen, seorang aktor berkelas B di Hollywood, dapat menjadi Gubernur California dan kemudian Presiden AS yang meluncurkan 'Reagen Revolution.' Dan dengan itulah, Vladimir Putin, seorang agen KGB, menjadi Presden Rusia yang paling sukses.
Di Indonesia, satu contoh trransformasi diri yang menajubkan adalah Panglima Besar Jenderal Soedirman, yang mengalami berbagai transformasi diri : dari seorang guru dan Da'i, menjadi tokoh kepemudaan, menjadi Daidancho PETA dan kemudian Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat, pemimpin gerilya yang sangat ulung dan akhirnya pahlawan nasional yang abadi.
Dalam setiap kasus ini, mereka berhenti berpikir sebagai buruh, aktor, agen, atau guru dan mulai bersikap sebagai pemimpin negara. Disini, mereka yang beruntung dilahirkan dalam dinasti politik memang mempunyai kelebihan tersendiri, karena mereka sudah terbiasa dengan kehidupan sehari-hari dunia pemerintahan dan suasana protokoler kenegaraan yang penuh kemegahan.
Hal ini pasti dirasakan oleh sederetan pemimpin dunia yang ayah atau ibunya juga pemimpin negara : almarhum Benazir Bhutto, George W. Bush, Gloria Macapagal Arroyo, Megawati Soekarnoputri, almarhum Rajiv Gandhi, almarhum Indira Gandhi, Lee Hsie Loong, dan Yasuo Fukuda.
Namun keharusan 'transformasi diri' tetap berlaku bagi mereka: begitu mereka menjadi pemimpin negara, mereka harus segera keluar dari kungkungan nama dinasti keluarga dan mengukir prestasinya sendiri. Dalam proses pembuatan keputusan sehari-hari, faktor yang paling menentukan adalah judgement, bukan keturunan.
diambil dari : Catatan Harian Dr. Dino Patti Djalal dalam buku "HARUS BISA! : Seni memimpin a la SBY - Jilid 2 (Pemimpin Harus Bisa Melakukan Transformasi Diri, Hal. 41-43 "
Semua orang, apapun pendidikan dan pekerjaannya, dapat menjadi seorang pemimpin. Namun begitu menjadi pemimpin, ia harus bisa beradaptasi terhadap tuntutan tugas barunya.
Paul Wolfowitz (mantan dubes AS di Indonesia, Menhan AS dan Presiden Bank Dunia), pernah menyatakan pada Dr. Alwi Shihab, waktu itu beliau Menlu pada era Gus Dur, "bahwa tantangan Gus Dur yang paling utama adalah bagaimana beliau dapat berpikir, berucap dan bertindak sebagai Presiden Republik Indonesia dan bukan lagi berpikir, berucap dan bertindak sebagai Kiai tersohor atau komentator yang cerdik". Ucapan Paul Wolfowitz tersebut tidak saja berlaku bagi Gus Dur, tapi bagi semua orang yang ingin menjadi pemimpin yang efektif. Yang penting bukan apa pekerjaan sebelumnya, namun apakah seseorang mampu melakukan transformasi diri dalam lingkungan barunya.
Dengan itulah, Lech Walesa, seorang tukang listrik di pelabuhan Gdansk, sukses menjadi Presiden Polandia dan memenagkan Nobel Perdamaian. Dengan itulah, Ronald Reagen, seorang aktor berkelas B di Hollywood, dapat menjadi Gubernur California dan kemudian Presiden AS yang meluncurkan 'Reagen Revolution.' Dan dengan itulah, Vladimir Putin, seorang agen KGB, menjadi Presden Rusia yang paling sukses.
Di Indonesia, satu contoh trransformasi diri yang menajubkan adalah Panglima Besar Jenderal Soedirman, yang mengalami berbagai transformasi diri : dari seorang guru dan Da'i, menjadi tokoh kepemudaan, menjadi Daidancho PETA dan kemudian Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat, pemimpin gerilya yang sangat ulung dan akhirnya pahlawan nasional yang abadi.
Dalam setiap kasus ini, mereka berhenti berpikir sebagai buruh, aktor, agen, atau guru dan mulai bersikap sebagai pemimpin negara. Disini, mereka yang beruntung dilahirkan dalam dinasti politik memang mempunyai kelebihan tersendiri, karena mereka sudah terbiasa dengan kehidupan sehari-hari dunia pemerintahan dan suasana protokoler kenegaraan yang penuh kemegahan.
Hal ini pasti dirasakan oleh sederetan pemimpin dunia yang ayah atau ibunya juga pemimpin negara : almarhum Benazir Bhutto, George W. Bush, Gloria Macapagal Arroyo, Megawati Soekarnoputri, almarhum Rajiv Gandhi, almarhum Indira Gandhi, Lee Hsie Loong, dan Yasuo Fukuda.
Namun keharusan 'transformasi diri' tetap berlaku bagi mereka: begitu mereka menjadi pemimpin negara, mereka harus segera keluar dari kungkungan nama dinasti keluarga dan mengukir prestasinya sendiri. Dalam proses pembuatan keputusan sehari-hari, faktor yang paling menentukan adalah judgement, bukan keturunan.
diambil dari : Catatan Harian Dr. Dino Patti Djalal dalam buku "HARUS BISA! : Seni memimpin a la SBY - Jilid 2 (Pemimpin Harus Bisa Melakukan Transformasi Diri, Hal. 41-43 "
Langganan:
Komentar (Atom)
