Haha.....di dalam bis 3/4 tersebut pada sisi kanan kiri tergantung kantong plastik kresek (pertama mikir buat apa kantong kresek plastik ini?) OoO...ternyata buat yang pada jackpot alias penumpang yang suka muntah (hoeekksss...cuihh!). Tapi kreatif juga, daripada berhamburan kemana-mana dan mengotori bis (maklum juga ya....mungkin daerah ini ndeso banget, sehingga masih ada penumpang yang muntah karena gak kuat, apakah sekarang masih ada yang seperti itu?).
Di terminal Cilacap, sesuai dengan instruksi bos saya (Bpk. H. Jackfar Ibrahim) untuk menghubungi Bpk. Soeharto (bukan alamarhum yang mantan presiden NKRI, belaiau adalah koordinator lapangan untuk proyek ini, usianya kira-kira sekitar 38 tahun) melalui telepon umum kerumahnya (dulu belum memasyarakat yang namanya ponsel, paling ericson atau motorolla...itu juga masih AMPS) dan kemudian saya ceritakan ciri-ciri saya yang memakai ransel, celana jeans dan kemeja biru kotak-kotak untuk dijemput di terminal Cilacap.
Sekitar dua puluh menit Bpk. Soeharto datang (sesuai dengan ciri-ciri yang saya sebutkan, karena memang ini kali pertama saya berjumpa dengan Pak Harto ini dan langsung bisa mengenali saya) dan kemudian kami berjabat tangan "saya kira Pak Asep ini sudah tua, tapi nyatanya masih anak-anak," begitu ujarnya pada kemudian hari.
Dan kemudian kami meluncur dengan mengendarai Kijang Super LGX warna hijau yang disopiri oleh Mas Darsan (almarhum yang saya ceritakan di part I, mobil tersebut juga milik Mas Darsan) langsung menuju Proyek Perluasan PT. Semen Nusantara.
Setelah tiba di Proyek, saya langsung menuju site office Sukwon Industrial Co.Ltd., dan diperkenalkan kepada General Affair (Bpk. Yus Suprihadi, sebagai local staff) serta beberapa local staff yang lain dan menghadap Mr. Oh Yeoung Tae (Accounting & Administration Manager, orang korea tentunya) untuk menjelaskan keberadaan saya di proyek itu yang ditugaskan sebagai perwakilan dari Perusahaan tempat saya bekerja, setelah ngalor ngidul dengan Mr. Oh, kemudian saya ijin pamit untuk hari ini mempersiapkan segala sesuatunya (dikarenakan saya baru tiba di Cilacap, saya mesti) dan mulai efektif pada esok hari saya bertugas.
Oh ya, karena saya menyebutkan asal saya yang dari mbandung, mereka menyangka saya fresh graduate dari ITB (hihihi....Icalan Teh Botol?), padahal saya hanyalah lulusan SMA thok!, tapi lumayanlah pengalaman saya yang saya dapat di proyek sebelumnya (Suralaya Steam Power Plant unit 5,6 & 7 di daerah Merak, Cilegon) setidaknya merupakan modal saya untuk bekerja.
Sekitar jam 10, saya, Pak Harto dan Mas Darsan keluar dari proyek menuju rumah makan untuk mengisi perut yang sedari malam belum diisi oleh makanan berat, dan pilihannya yaitu makan sate seleko, sate kambing plus gulai kambing tentunya (hmmm....maknyuss) ditambah air es jeruk yang segaarrrr, sambil membicarakan (dengan logat Cilacap yang mledak-ledak, dalam hati saya belum terbiasa mendengar logat Jawa Cilacap) tentang keadan Cilacap dan proyek ini.
Kemudian setelah selesai makan, kami pun langsung menuju ke rumah Pak Harto di daerah Mertasinga, Cilacap Utara (rumah tersebut peninggalan orang tua dari istri Pak Harto).
Rumah dengan pekarangan yang luas dan bangunan yang besar (ciri khas rumah di daerah jawa) juga saya mencium ada suasana mistis pada rumah itu (kesannya lumayan bikin bulu kuduk merinding).
Sekeliling rumah ditumbuhi oleh pohon mangga dan pohon sukun (rata-rata pekarangan rumah disini ditumbuhi oleh pohon sukun) dan juga pohon melinjo (daun so, kalau orang Cilacap bilang) yang diambil daunnya untuk lalapan. Juga ada beberapa ekor ayam kampung dan ayam adu, soang (angsa, orang Cilacap bilang banyak) yang dipelihara oleh keluarga Pak Harto.
Rumah dengan suasan yang asri seluas dan sebesar ini dihuni oleh Pah Harto, Istrinya dan kedua anaknya (yang paling besar kelas sua SD, dan yang paling kecil masih TK dan keduanya laki-laki), teras depan yang cukup lebar berkeramik putih, ruang tamu, ruang keluarga, 3 ruang tidur dan ruang-ruang lainnya.
Pada dinding terdapat gambar-gambar foto dan lukisan-lukisan, mata saya tertuju kepada lukisan wanita muda zaman dulu yang mengenakan kebaya tradisional dan cantik (mulailah otak saya dirasuki pikiran mistis tentang lukisan itu, tak bisa lama-lama saya memandang lukisan tersebut), baru saya tahu bahwa wanita muda yang terlukis pada kanvas yang berbingkai itu adalah almarhum dari istri Pak Harto, meninggal pada saat melahirkan (pantes! bulu kuduk saya merinding terus...hiiii) begitu cerita yang saya dengar dari Pak Harto dan istrinya.
"Mas Asep malam ini tidur disini dulu, pesan saya....kalau nanti malam ada hal-hal yang aneh jangan kaget. Soalnya rumah ini ada penghuni halusnya. Tetapi gak mengganggu kok," Pak Harto menerangkan kepada saya. Dalam hati saya sambil berguman, "Palalu peyang!, diceritain gini aja sudah merupakan hal yang mengganggu buat saya," ahh....
"Kalau bisa saya cari kostan dulu pak," pinta saya kepada Pak Harto. "biar saya bisa tenang dan nyaman dalam melaksanakan tugas-tugas saya," terang saya lagi.
"ya, nanti saya carikan. saya juga tidak keberatan kalau Pak Asep tinggal disini," kata Pak Harto berbasi-basi.
"jangan pak, nanti merepotkan. soalnya saya kadang susah tidur kalau malam. takut mengganggu Bapak dan keluarga," padahal saya ingin bebas (pulang malem, dll., dsb) gak enak numpang sama orang lain.
"ya sudah, tapi malam ini bermalam dulu disini dan ingat ya pesan saya tadi," kata Pak Harto.
Grrrrrrrrr....diingetin lagi sama hantu!, ujung-ujungnya saya tidak dapat tidur pada malam harinya . zzzzzzzzzzz eswetehhhhhhhh.