Senin, 26 Mei 2008

Remembering Cilacap (part II)

Waktu saya menginjakkan kaki ke Cilacap pada 5 Agustus 1996, yang waktu itu saya datang dari Cilegon jam 10 malam dengan menggunakan Bis Malam Muncul jurusan Lampung - Jawa Timur (persisnya kota mana sudah lupa tuh!) kemudian turun didaerah Aji Barang (asli banget! ini adalah pengalaman pertama seumur hidup bepergian ke tempat yang jauh seorang diri, sepanjang jalan saya hanya tertidur dengan nyenyaknya......AC yang dingin dan selimut tebal tentunya, selimut beneran!), tiba kira-kira pukul 6.30 pagi yang cerah dan hawa sejuk dan meneruskan perjalanan dengan memakai bis 3/4 (seukuran Metro Mini kalau di Jakarta) ke arah terminal Cilacap sekitar kurang lebih 30 menit dari Wangon melewati Jeruk Legi dan juga lapangan terbang Tunggul Wulung.
Haha.....di dalam bis 3/4 tersebut pada sisi kanan kiri tergantung kantong plastik kresek (pertama mikir buat apa kantong kresek plastik ini?) OoO...ternyata buat yang pada jackpot alias penumpang yang suka muntah (hoeekksss...cuihh!). Tapi kreatif juga, daripada berhamburan kemana-mana dan mengotori bis (maklum juga ya....mungkin daerah ini ndeso banget, sehingga masih ada penumpang yang muntah karena gak kuat, apakah sekarang masih ada yang seperti itu?).
Di terminal Cilacap, sesuai dengan instruksi bos saya (Bpk. H. Jackfar Ibrahim) untuk menghubungi Bpk. Soeharto (bukan alamarhum yang mantan presiden NKRI, belaiau adalah koordinator lapangan untuk proyek ini, usianya kira-kira sekitar 38 tahun) melalui telepon umum kerumahnya (dulu belum memasyarakat yang namanya ponsel, paling ericson atau motorolla...itu juga masih AMPS) dan kemudian saya ceritakan ciri-ciri saya yang memakai ransel, celana jeans dan kemeja biru kotak-kotak untuk dijemput di terminal Cilacap.
Sekitar dua puluh menit Bpk. Soeharto datang (sesuai dengan ciri-ciri yang saya sebutkan, karena memang ini kali pertama saya berjumpa dengan Pak Harto ini dan langsung bisa mengenali saya) dan kemudian kami berjabat tangan "saya kira Pak Asep ini sudah tua, tapi nyatanya masih anak-anak," begitu ujarnya pada kemudian hari.
Dan kemudian kami meluncur dengan mengendarai Kijang Super LGX warna hijau yang disopiri oleh Mas Darsan (almarhum yang saya ceritakan di part I, mobil tersebut juga milik Mas Darsan) langsung menuju Proyek Perluasan PT. Semen Nusantara.
Setelah tiba di Proyek, saya langsung menuju site office Sukwon Industrial Co.Ltd., dan diperkenalkan kepada General Affair (Bpk. Yus Suprihadi, sebagai local staff) serta beberapa local staff yang lain dan menghadap Mr. Oh Yeoung Tae (Accounting & Administration Manager, orang korea tentunya) untuk menjelaskan keberadaan saya di proyek itu yang ditugaskan sebagai perwakilan dari Perusahaan tempat saya bekerja, setelah ngalor ngidul dengan Mr. Oh, kemudian saya ijin pamit untuk hari ini mempersiapkan segala sesuatunya (dikarenakan saya baru tiba di Cilacap, saya mesti) dan mulai efektif pada esok hari saya bertugas.
Oh ya, karena saya menyebutkan asal saya yang dari mbandung, mereka menyangka saya fresh graduate dari ITB (hihihi....Icalan Teh Botol?), padahal saya hanyalah lulusan SMA thok!, tapi lumayanlah pengalaman saya yang saya dapat di proyek sebelumnya (Suralaya Steam Power Plant unit 5,6 & 7 di daerah Merak, Cilegon) setidaknya merupakan modal saya untuk bekerja.
Sekitar jam 10, saya, Pak Harto dan Mas Darsan keluar dari proyek menuju rumah makan untuk mengisi perut yang sedari malam belum diisi oleh makanan berat, dan pilihannya yaitu makan sate seleko, sate kambing plus gulai kambing tentunya (hmmm....maknyuss) ditambah air es jeruk yang segaarrrr, sambil membicarakan (dengan logat Cilacap yang mledak-ledak, dalam hati saya belum terbiasa mendengar logat Jawa Cilacap) tentang keadan Cilacap dan proyek ini.
Kemudian setelah selesai makan, kami pun langsung menuju ke rumah Pak Harto di daerah Mertasinga, Cilacap Utara (rumah tersebut peninggalan orang tua dari istri Pak Harto).
Rumah dengan pekarangan yang luas dan bangunan yang besar (ciri khas rumah di daerah jawa) juga saya mencium ada suasana mistis pada rumah itu (kesannya lumayan bikin bulu kuduk merinding).
Sekeliling rumah ditumbuhi oleh pohon mangga dan pohon sukun (rata-rata pekarangan rumah disini ditumbuhi oleh pohon sukun) dan juga pohon melinjo (daun so, kalau orang Cilacap bilang) yang diambil daunnya untuk lalapan. Juga ada beberapa ekor ayam kampung dan ayam adu, soang (angsa, orang Cilacap bilang banyak) yang dipelihara oleh keluarga Pak Harto.
Rumah dengan suasan yang asri seluas dan sebesar ini dihuni oleh Pah Harto, Istrinya dan kedua anaknya (yang paling besar kelas sua SD, dan yang paling kecil masih TK dan keduanya laki-laki), teras depan yang cukup lebar berkeramik putih, ruang tamu, ruang keluarga, 3 ruang tidur dan ruang-ruang lainnya.
Pada dinding terdapat gambar-gambar foto dan lukisan-lukisan, mata saya tertuju kepada lukisan wanita muda zaman dulu yang mengenakan kebaya tradisional dan cantik (mulailah otak saya dirasuki pikiran mistis tentang lukisan itu, tak bisa lama-lama saya memandang lukisan tersebut), baru saya tahu bahwa wanita muda yang terlukis pada kanvas yang berbingkai itu adalah almarhum dari istri Pak Harto, meninggal pada saat melahirkan (pantes! bulu kuduk saya merinding terus...hiiii) begitu cerita yang saya dengar dari Pak Harto dan istrinya.
"Mas Asep malam ini tidur disini dulu, pesan saya....kalau nanti malam ada hal-hal yang aneh jangan kaget. Soalnya rumah ini ada penghuni halusnya. Tetapi gak mengganggu kok," Pak Harto menerangkan kepada saya. Dalam hati saya sambil berguman, "Palalu peyang!, diceritain gini aja sudah merupakan hal yang mengganggu buat saya," ahh....
"Kalau bisa saya cari kostan dulu pak," pinta saya kepada Pak Harto. "biar saya bisa tenang dan nyaman dalam melaksanakan tugas-tugas saya," terang saya lagi.
"ya, nanti saya carikan. saya juga tidak keberatan kalau Pak Asep tinggal disini," kata Pak Harto berbasi-basi.
"jangan pak, nanti merepotkan. soalnya saya kadang susah tidur kalau malam. takut mengganggu Bapak dan keluarga," padahal saya ingin bebas (pulang malem, dll., dsb) gak enak numpang sama orang lain.
"ya sudah, tapi malam ini bermalam dulu disini dan ingat ya pesan saya tadi," kata Pak Harto.
Grrrrrrrrr....diingetin lagi sama hantu!, ujung-ujungnya saya tidak dapat tidur pada malam harinya . zzzzzzzzzzz eswetehhhhhhhh.

Remembering Cilacap (Part I)

Pada tahun 1996 sampai dengan 1997 (kurang lebih 10 bulan), saya bertugas di Cilacap sebagai accounting and administrator pada proyek perluasan PT. Semen Nusantara, dimana perusahaan tempat saya bekerja adalah salah satu sub-kontraktor dari perusahaan korea (Sukwon Industrial, Co. Ltd.) di bidang penyedia jasa tenaga kerja (labour supply) yang berkantor pusat di Jakarta.

Sebagai seorang yang menjadi wakil perusahaan, tentu saja saya dituntut untuk melaksanakan dengan baik tugas yang diamanahkan oleh pimpinan kepada saya.

Cilacap, kota kecil tetapi banyak menimbulkan kenangan yang tak terlupakan hingga saat ini, untuk meninggalkan kota Cilacap terasa berat bagi saya pada waktu itu tugas saya telah berakhir pada sekitar bulan Maret 1997.

Banyak hal yang membuat saya selalu teringat akan Cilacap, dari mulai kondisi sosial budaya, makanan (sate seleko, soto gentong dan tempe mendoan favorit saya, belum lagi kerupuk tenggiri yang pabriknya terletak di Jl. Rinjani dan udang besar yang saya beli di teluk penyu pada sore hari kemudian di goreng dan disantap dengan saus sambal dan kecap secara bersama-sama di tempat kost saya di Jl. Mertasinga, depan pasar Limbangan, Cilacap Utara), Minuman Ciu atau Pletoknya Mas Pardi dan tentunya daerah Slarang (hahaha…..zaman jahiliyah!).

Ibu kost saya bernama Ibu Daliyah, membuka warung makan dengan menu utama ayam goreng kampung asli (bener-bener kampung!), jangan ditanya mengenai kelezatan dan kenikmatan masakan khas Ibu Daliyah (dijamin maknyuss) selain ayam goreng kampung adapula kluban (urap) hanya saja ditambahkan kecombrang dan tetap memakai parutan kelapa sebagai campurannya (wuihh…membayangkannya saja sudah membuat perut saya lapar lagi :d), warung makan Ibu Daliyah ini sangat terkenal di Cilacap hingga ke Purwokerto, dengan harga terjangkau pula.

Sedangkan suaminya, Bpk. Suparto (kalau saya tidak salah…hihi) mempunyai tambak ikan gurame kira-kira berjarak 1 kilometer di belakang rumah.

Ibu Daliyah dikaruniai seorang anak laki-laki semata wayang, usianya pada waktu itu bertaut 3 tahun lebih tua (pada 1997 saya berusia 21 tahun dan lajang!) daripada saya dan sudah 1 tahun menikah tetapi belum dikaruniai anak.

Anak Ibu Daliyah bernama Mike Dafur Afifi dengan panggilan akrab Darsan, istrinya bernama Mimin (pada tahun 1998, Darsan mengalami kecelakaan tragis pada malam hari di daerah Menganti, + 5 kilometer dari arah rumahnya, yang tragisnya mobil trailer yang sedang parkir di tabrak oleh motor Yamaha RX-King yang dikendarai olehnya dan mengakibatkan hancur berantakan tubuh Darsan, sedemikian keras benturan yang di alami, maklum saja kecepatan motornya pun demikian kencang ditambah pada waktu itu almarhum berada dalam pengaruh alkohol. Semoga Allah S.W.T mengampuni segala kesalahnnya dan menerima segala amal baik perbuatannya. Amien…..dan pada dasarnya Darsan adalah anak yang baik, terakhir kali saya bertemu di Cilegon + sekitar 3 bulan sebelum beliau wafat. Darsan bagi saya adalah seorang sahabat dan juga saudara, sedangkan Mimin terakhir kali saya dengar beritanya sudah menikah lagi pada tahun 2004 sekembalinya dari bekerja di Taiwan). Beuh, saya jadi sangat melankolis ketika menuliskan ini….hiks.

Back to topic!

Saya menempati kamar depan, pada waktu itu saya hanya membayar seratus lima puluh ribu rupiah tiap bulannya, sudah termasuk makan sepuasnya di warung Ibu Daliyah (alamak, murah kali!. Ya iya laah…..masa Ya Iya Dong!), kalau mau pakaian di cucikan dan disetrika hingga rapi oleh mbak yang membantu pekerjaan di rumah Ibu Daliyah, saya hanya cukup menambahkan lima puluh ribu rupiah untuk upah setiap bulan plus detergent tentunya.

Rumah dan tanah pekarangan Ibu Daliyah demikian luasnya, selain tempat parkir yang terletak di depan rumah dan sebelah warung luasnya + 50 meter persegi, juga terdapat rumah kontrakan disebelah kanan warung yang ditempati oleh Pak Mantri Kesehatan beserta anak-anaknya (Mbak Sri dan Mas Waluyo dengan 2 anak, Yanto anak bungsu yang sekolah di Akademi Perawat, juga tinggal saudara perempuan yang membantu di rumah itu yang duduk di kelas 3 SMP). Pak Mantri sendiri adalah suami dari Ibu Atun (ibu tiri dari Mayangsari, istri kedua dari Bambang Tri , yang artis itu lho!).

Sedangkan bangunan sebelah kiri ada bangunan yang berupa toko dan di kontrak oleh studio photo (cuci cetak), dan sebelahnya lagi Mie Ayam yang hanya buka pada sore hari dan tutup menjelang malam, yang saya ingat minuman utamanya adalah es soda gembira (sekarang studio photo atau cuci cetak itu telah beralih fungsi menjadi rumah yang ditempati oleh mbak Sri dan mas Waluyo beserta keluarga, karena rumah yang di kontrakan kepada pak mantri sekarang telah dibongkar). Terakhir kali saya berkunjung ke Cilacap pada tahun 2000.

Pada malam hari biasanya sesekali saya nongkrong dan ngobrol ngalor-ngidul tentang segala hal dari mulai obrolan yang ringan sampai obrolan politik (pada waktu itu masih dibawah kendali pemerintahan orde baru, dimana topik yang sedang hangat adalah tentang PDI Perjuangan pimpinan Ibu Megawati) bersama pemuda sekitar (ada mas Tri, mas Pentong, mas Gembul, mas Menod, mas Dedi, dan mas-mas yang lainnya) di warung kopi dan mendoan di seberang rumah dan terletak di pinggir jalan raya, sekitar pasar Limbangan. Dan kalau lagi kumat tegangan tingginya, kami biasanya meluncur ke daerah Slarang atau ke tempat mas Pardi yang menyediakan minuman Pletok atau Ciu (hahaha…..semoga Allah S.W.T mengampuni segala dosa-dosa saya bersama kawan-kawan Cilacap saya di tempat itu).

Sesekali jalan-jalan di pusat perbelanjaan di kawasan tengah kota (Rita Dept. Store) sambil ngeceng-ngeceng pelayannya :d, karaoke dan dugem di kalidonan atau Ciptorini, atau pada sore hari saya bermain skate board di jalan aspal pantai Teluk Penyu dekat benteng Pendem, salah satu kawasan wisata pantai di Cilacap, atau pantai Srandil di malam hari (pada waktu itu saya kesana kebetulan ada gamelan Jawa, karawitan lengkap dengan sinden melantunkan tembang-tembang jawa. Mitosnya di kawasan pantai Srandil, apabila ingin laris dan menjadi sinden terkenal juga para dalang wayang kulit tentunya, tempat itu adalah tempat keramat yang akan mewujudkan segala keinginan…hmmm. Juga yang saya dengar, Bapak Presiden pertama kita Paduka Yang Mulia Ir. Soekarno dan Bapak Presiden kedua kita Bapak H.M Soeharto juga sering mengunjungi pantai Srandil untuk tetirah guna mendapatkan wangsit, katanya lho!).

Yang saya sesalkan saya belum pernah menginjak yang namanya pulau Nusakambangan, katanya keindahan alam disana cukup eksotik dan mengagumkan.