Rabu, 09 November 2011

Travel adalah suatu aktivitas perjalanan menuju suatu tempat, Pattern adalah suatu pola yang akan menghasilkan sesuatu yang melibatkan berbagai unsur dari mulai bahan, desain, pelaksanaan, hingga menjadikannya hasil akhir yang sangat memuaskan. Bila disimpulkan, Travel Pattern adalah suatu pola perjalanan yang dirancang, dibangun dan dikemas menjadi suatu komoditi yang layak untuk dinikmati. Erat kaitannya dengan industri pariwisata.

Pariwisata, secara etimologi berasal dari kata Pari yang berarti banyak, Wisata berarti berjalan dengan melihat.



Sebetulnya kegiatan ini (Pariwisata) sudah dilakukan sejak manusia pertama Adam diturunkan ke muka bumi, tempat pertama yang disinggahi adalan dataran India. Sejarah peradaban awal manusia ditulis oleh orang yang bernama Akhnukh, dan kemudian bergelar Idris. Dinamakan Idris karena ia selalu mempelajari mushaf-mushaf Adam dan Shiyth. Ia juga dijuluki sebagai "Asadul asad" (Singa dari segala singa) karena keberanian dan kegagahannya. Menurut buku berjudul The Prophet of God Enoch: Nabiallah Idris, Idris adalah sebagai sebutan atau nama Arab bagi Akhnukh, nenek moyang Nuh. * selengkapnya : http://id.wikipedia.org/wiki/Idris

Adam yang terpisah dari Hawa yang diturunkan disekitar wilayah Irak dan kemudian bertemu setelah sekian puluh tahun lamanya di Jabal Rahmah, Arab.

Namun, perjalanan Adam mencari Hawa tentulah bukan berkaitan dengan kepariwisataan seperti sekarang ini. Namun apa-apa yang dialami oleh Adam adalah merupakan suatu momen-momen yang menyimpan banyak pelajaran berharga akan sejarah peradaban umat manusia.



Bagi saya, anda dan mereka, tentunya mempunyai alasan yang beragam untuk mengunjungi suatu tempat. Apakah karena trend, sesuatu yang baru dan lain sebagainya. Berwisata dan Tour berbeda maknanya, tour mengandung unsur learn, study and search.

Bagi para penggiat wisata seperti orang-orang yang bekerja pada bidang kepariwisataan tentulah mesti memahami apa arti dan pentingnya suatu Travel Pattern atau Pola Perjalanan Wisata, yang mengemas dari awal hingga akhirsuatu perjalanan.

Bisnis wisata seakan menjadi ujung tombak bagi perkembangan suatu daerah, karena melibatkan banyak pihak yang terkait didalamnya dan akan menjadi salah satu alternatif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan mengembangkan potensi-potensi yang ada.



Bagi Banten khususnya, ketersedian alam adalah merupakan bahan (raw material) yang menyimpan banyak potensi yang mesti digali dan dikembangkan, tinggal bagaimana kita secara bersama-sama memaksimalkan potensi tersebut. Wacana Banten yang akan dijadikan dan terpilih menjadi kawasan wisata khusus yang berpusat didaerah Tanjung Lesung dengan ditandatanganinya Perpres (?) pada bulan Desember 2011 nanti, merupakan suatu peluang yang dapat ditangkap para penggiat wisata khususnya, selain partisipasi masyarakat sekitar untuk dapat merawat, menata, menjaga serta memelihara tempat (baldah) dan juga dukungan dari pemerintah beserta elemen terkait lainnya.



Pesta pora PEMILUKADA sudah usai, perdebatan dan pertentangan terhadap kekuasaan hanyalah menjadikan masyarakat hanya sebagai objek penderita yang dari masa ke masa . Sudah saatnya kita bersama-sama mewujudkan Banten yang Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofuur sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Kita berasal dari yang SATU dan kemudian tercerai berai untuk menuju yang SATU.



Cilegon, 8 Nopember 2011

catatan ti gigir

Journey to Ujung Kulon

Sabtu, 29 Oktober 2011



Dari sejak jam 5.30 subuh sehabis mengantar jama'ah haji kloter 48 di Ciwaru, Serang Banten dalam keadaan belum tidur layaknya orang normal, saya sudah berada di depan pintu tol Serang Timur menunggu jemputan menuju Ujung Kulon.

Sekitar 20 menit akhirnya yang ditungu datang juga, kemudian kami bertiga (kang Irham, Kang Dayat dan Saya) langsung menuju kerumah kang Sigit untuk menjemput. Setelah itu barulah kami berempat menuju Ujung Kulon dan sebelumnya transit di pomp bensin daerah Pal Lima untuk mengisi bensin dan menunggu team yang punya hajat ke sana.

Perjalanan dari kota Serang sampai Cibaliung kami selingi dengan obrolan-obrolan ringan, namun tak lepas dari fokus kami untuk mengolah Banten dari sudut pariwisata...ya, daerah tujuan wisata khusus!. Kondisi jalan dan infrastruktur dari kota Serang sampai kecamatan Sumur memang tak semulus wajah ibu Gubernur setelah di make-up, namun cukuplah mulus bagi kami. Tetapi sejak dari kecamatan Sumur sampai ke Taman Jaya barulah terasa sekitar kurang lebih 20 kilometer jalan berubah menjadi kasar, ditambah Toyota Avanza yang kami kendarai tidaklah cukup nyaman dengan kondisi jalan seperti itu, berbatu penuh lubang! Dalam obrolan yang diselingi dengan anekdot-anekdot, kami berempat sempat sesambat kepada ibu Gubernur..."ini bukan lagi diteruskan, namun memang belum mulai pembangunan untuk kawasan ini,".



Pas adzan Dzuhur tibalah kami di Desa Taman Jaya, berarti kurang lebih 6 jam perjalanan dari serang ke tempat ini dalam kondisi santai. Kami langsung menuju ke penginapan yang dikelola oleh Koperasi warga setempat yang letaknya tidak begitu jauh dari sisi pantai dengan pemandangan segar. Tidak kami temukan suasana seperti ini di kota besar tentunya. Ada sekitar 4 kamar dengan 2 buah tempat tidur, bangunan yang berbentuk panggung dan berdinding bata merah nan asri, dengan kisaran harga sekitar 150 ribu rupiah permalam. Di seberangnya ada sebuah rumah tembok permanen berjumalah 4 kamar juga dengan 2 tempat tidur. Tak jauh dari penginapan tersebut, terdapat dermaga yang bisa mengantarkan ke seberang pulau (P. Peucang, P. Haneuleum, P. Umang, dan Taman Nasional Ujung Kulon) dengan perahu motor berkapasitas sekitar 25 orang.



Hujan pun kemudian turun, kami yang memang sejak tadi berteduh di penginapan yang berbentuk panggung itu, dengan alas lantai bambu akhirnya hanya bisa menikmati saja dengan segelas kopi dan teh manis hangat diselingi sajian gorengan pisang molen. Sambil memesan nasi panas dengan lauk ikan asin peda putih, telor ceplok dan lalab ala kadarnya (terong bulat dan ketimun) ditambah sambal segar dan krupuk, lantas menyantap dengan lahapnya hidangan tersebut di sela hujan, makan siang sekaligus sarapan! dan setelah itu sayapun tertidur pulas saking lelahnya, tak peduli dengan team yang ngobrol ngalor-ngidul dengan urusannya.....dan saya baru terbangun sekitar jam 3 sore.



Setelah beres urusan di Desa Taman Jaya, sekitar jam 4 sore kami pamit menuju pulang ke Serang, jalan batu dan berlubang ditambah hujan deras membuat genangan air bak kolam ikan. Lagi-lagi kami keluarkan joke-joke seputaran pembangunan di Provinsi Banten, khususnya daerah ini. Sekitar 10 kilometer tibalah kami di pantai Ciputih (Ciputih Beach) sekedar ambil foto dan mengumpulkan informasi penginapan tersebut. Harganya lebih murah di banding dengan kawasan Anyer, mungkin bisa diatas satu juta rupiah permalam kalau di Anyer dengan fasilitas dan suasana seperti ini.



Kanan dan kiri rumah-rumah penduduk yang terbuat dari bilik bambu dan beberapa rumah yang terbangun dari tembok dengan jarak yang tidak terlalu padat. Gunung yang menjulang dan pantai yang menghampar luas merupakan pemandangan yang membuat kami tak bosan dan jenuh melihat rumah-rumah penduduk sekitar yang tergolong miskin, namun dengan adanya antene parabola di halaman rumah menandakan warga terpencil ini ingin melihat dunia luar melalui televisi.



Selepas Isya kami tiba di Labuan dan singgah di rumah makan Astri yang menyajikan hidangan ikan laut, cumi dan udang bakar, tak ketinggalan juga otak-otak dengan bumbu kacang! kami pun makan dengan lahapnya. Setelah itu lanjut menuju Serang dan Cilegon ke rumah masing-masing. Besok lusa kami datang lagi kemari.



Entahlah ibu Gubernur atau calon-calon Gubernur lainnya, pernahkah singgah ke daerah ini atau tidak, atau mereka hanya menutup mata? Padahal potensi pariwisata yang ada di daerah ini tak kalah dengan Bali, dan kalau di olah dan dikelola secara benar, maka kesejahteraan penduduk pun akan meningkat.

Dinas Pariwisata Provinsi Banten yang mempunyai concern mengembangkan daerah ini, patutlah didukung. Namun perlu adanya sinergi antara dinas Bina Marga, PU, dan instansi terkait lainnya. Utamanya infrastruktur dan juga peranan penduduk sekitar agar tidak hanya sekedar menjadi penonton.





Cilegon, 31 Oktober 2011

catatan perjalanan



Photo-Photo : ="http://www.facebook.com/media/set/?set=a.292479780763940.80633.100000057606522&type=3"

Jumat, 08 April 2011

.....

akankah hadirku ringankan deritanya...
atau malah menambah kegundahan hatinya?

Kamis, 07 April 2011

AS Akan Pinjami Dana untuk Bangun Lintas Selatan Jawa

07-05-2010

JAKARTA: Lembaga donor Amerika Serikat, Millenium Challenge Corporation (MCC), siap memberikan pinjaman lunak hingga US$300 juta untuk pembangunan jalan lintas selatan Jawa.

"Kami tinggal menyusun kesepakatan formal dengan mereka untuk pengesahan pinjaman lunak sebesar US$300 juta," kata Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Djoko Murjanto kepada pers di Jakarta, Kamis (6/5).

Ia menjelaskan bahwa niat MCC itu kini sedang dibahas di tingkat senat mereka. Jika disetujui, pada 2011 sudah bisa dilakukan tahap desain yang dilanjutkan dengan pembangunan fisik selama tiga tahun.

Pinjaman itu, kata dia, untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur jalan lintas pantai selatan Jawa sepanjang 300 kilometer dari total panjang 1.567,195 km.

Dijelaskan pula, lembaga donor asal Amerika Serikat itu tertarik untuk membiayai pembangunan jalan lintas selatan Jawa karena tujuannya untuk membuka akses kawasan terisolasi di daerah selatan Jawa.

"Pinjaman yang akan dialokasikan pada pembangunan Banten-Jawa Barat itu bersifat lunak," katanya menegaskan.

Proposal dana hibah itu, lanjut dia, sudah disampaikan pada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk menjalani proses pembahasan.

Direktur Bina Program Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Taufik Widjoyono mengatakan dana hibah itu akan dialokasikan untuk peningkatan jalan berstatus strategis nasional di Provinsi Banten sepanjang 174,69 km.

Selain itu, Jawa Barat 421,17 km, Jawa Tengah 217,54 km, Yogyakarta 135,325 km, dan Jawa Timur 618,47 km.

Pemerintah melalui Bappenas juga mengusulkan proposal pinjaman pada Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) senilai US$350 juta dan Islamic Development Bank (IDB) sebesar US$120 juta .

Ia menjelaskan total pinjaman sebesar 470 juta dolar AS itu akan digunakan sebagai dana proyek pengembangan jalan regional (regional road development project/RRDP).

Selain pinjaman lunak itu, pemerintah berupaya mendapatkan pinjaman senilai US$300 juta yang setara dengan Rp2,4 triliun untuk meningkatkan kapasitas jalan nasional dan jembatan di kawasan timur Indonesia (KTI).

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto sebelumnya mengutarakan bahwa dana itu akan berupa pinjaman lunak yang dapat dicicil selama 40 tahun tanpa bunga dan masa tenggang selama 10 tahun. (Ant/OL-7)