1. RENDAH HATI, Seorang pemimpin bukanlah orang yang harus di istimewakan. Dia adalah hanya sekedar orang yang ditinggikan seranting, yang didahulukan selangkah, yang dilebihkan serambut dan dimuliakan sekuku. Artinya, dia adalah seorang yang dapat dijangkau oleh orang biasa, dia berada ditengah-tengah dan paham kondisi yang ada.
2. TERBUKA UNTUK DIKRITIK, Seorang pemimpin akan banyak menerima keluhan bahkan kritik tajam. Kritik tajam tidak harus ditanggapi dengan sikap arogan. Seorang pemimpin harus terbuka menerima kritik dan memikirkannya secara mendalam. Dia tidak akan menganggap kritikan sebagai hujatan dan orang yang mengkritik sebagai lawan. Orang yang mengkritik akan diperlakukan sebagai “Mitra”. Dia akan menerima kritikan sebagai nasehat dalam rangka memperbaiki kualitas kerja, meluruskan dari kemungkinan buruk untuk dilakukan perbaikan.
3. MEMEGANG AMANAH, Seorang pemimpin adalah orang yang mendapat amanah untuk membangun menuju kehidupan yang lebih baik dan dioa memegang amanah itu dengan adil. Dia harus membela kepentingan yang lebih banyak. Dia harus membahagiakan saat dia juga berbahagia. Dia harus membela yang benar walau harus berkorban. Rela berada dalam kesulitan ketika yang dipimpin dalam kesulitan. Bahkan seorang pemimpin rela mati demi membela yang baik dan benar. Dia tidak menyalahgunakan kekuasaan untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang. Dia tidak akan menyalahgunakan kekuasan untuk memuaskan ambisi pribadi. Selain itu, dia harus taat kepada Allah SWT, karena dia mendapat amanah sebagai pemimpin dimuka bumi.
4. BERLAKU ADIL, Seorang pemimpin harus meletakkan soal penegakan keadilan sebagai sikap yang essensial. Seorang pemimpin harus mampu menimbang dan memperlakukan sesuatu dengan seadil-asilnya bukan sebaliknya berpihak pada seorang secara berat sebelah. Orang yang “LEMAH” harus dibela hak-haknya dan dilindungi, sementara orang yang “KUAT” dan bertindak zhalim harus dicegah dari tindakan sewenag-wenangnya.
5. KOMITMEN, Seorang pemimpin hendaklah memiliki komitmen yang kuat terhadap kepentingan yang lebih banyak. Tidak boleh mengabaikan aspirasi yang ada, terlebih kalu aspirasi itu merupakan hasil musyawarah. Dia harus menjalankan kewajiban dan konsisten pada konstitusi dan aturan serta perundangan lain yang telah disepakati.
6. DEMOKRATIS, Seorang pemimpin secara teguh memegang prinsip demokratis. Pemimpin tidak boleh sembarangan memutuskan sesuatu hal sebelum adanya musyawarah mufakat. Keterlibatan bersama semua pihak dalam memutuskan sesuatu bersama akan dapat memberikan kepuasan, sehingga apapun yang akan terjadi di kemudian hari, baik buruknya bisa ditangtgung bersama.
7. TAAT, Seorang pemimpin akan mentaati aturan dan mendengar suara atau aspirasi yang ada. Semua dilakukan dalam rangka memohon pertolongan dan ridho Allah SWT semata. Dengan senantiasa berbakti kepada-Nya, terutama dalam menegakkan sholat lima waktu atau yang haq dan sunnah. Seorang pemimpin hanya akan mendasari sesuatu semata karena Allah SWT dengan tekad untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang keji dan tercela. Selanjutnya ia akan mampu mengawasi dirinya dari perbuatan-perbuatan hina. Dengan melakukan sholat yang baik dan benar sebagaimana tuntunan ajaran Islam akan dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar.
.....dan tak usah kau tanyakan arti dan makna, jangan pula kau perdebatkan tentang kebenaran maupun keburukan apalagi berharap akan manfaat dari ke dua puluh enam huruf yang aku susun menjadi kata yang terangkum dalam sebuah kalimat.....
Sabtu, 11 Desember 2010
PENDERITAAN RAKYAT BANTEN DARI TH 1888 s.d. TH 2010
Dalam disertasinya, seorang sejarahwan Prof.Dr.Sartono Kartodirjdo menuliskan tentang keadaan Banten pada tahun 1888 beberapa tahun setelah Gunung Krakatau meletus. Banten ketika itu mengalami suasana dimana pemberontakan (pembangkangan) dijadikan sebagai tradisi oleh rakyat Banten terhadap penguasa kolonial (penjajah). Salah satu penyebabnya adalah ketersingkiran rakyat Banten dalam kancah politik dan ekonomi akibat dominasi kekuasaan kolonial.
Seorang tokoh pejuang Propinsi Banten, H.Uwes Qorny (alm) dalam beberapa tulisannya juga menggambarkan situasi Banten yang tidak jauh berbeda pada zaman masa itu dengan zaman Orde Baru ( 1967-1970-an). Banten sebagai daerah bawahan propinsi Jawa Barat dan merasa berperan besar dalam merebut kemerdekaan Repbulik Indonesia, meminta kepada pemerintah Jawa Barat untuk memisahkan diri dan mengatur diri sendiri alias otonom (menjadi propinsi), namun apa tanggapan pemerintah Jawa Barat waktu itu, dengan sangat-sangat keras menolak, termasuk dari pemerintah pusat. Bahkan rakyat Banten dan tokoh-tokoh pemerkasa propinsi banyak mendapat ancaman dan banyak yang ditahan oleh penguasa.
Intinya, pada dua masa itu rakyat Banten mengalami keadaan dimana tidak hanya kondisi keburukan perekonomian, tapi juga kehilangan hak-hak politik dan warisan cultural, rakyat Banten merasa dihalang-halangi (sense of blockade) disemua bidang. Setelah Orde Baru tumbang dan berganti Orde Feformasi, kembali rakyat Banten sekuat tenaga melahirkan impianya yang setelah sekian tahun terkubur yaitu menjadi Propinis Banten.
Kini kurang lebih 9 tahun Propinsi Banten berdiri, tentunya kelahiran propinsi ini merupakan anugerah dan merupakan hasil jerih payah semua elemen masyarakat tidak terkecuali para kuli tinta. Mereka mendorong dengan tulisannya agar pemrintah pusat dan legislative segera merancang dan mengesahkan Undang_Undang Tentang Propinsi Banten.
Namun kondisi sampai tahun 2010 ini, rakyat Banten masih banyak mengalami ketidakadilan dan tekanan sekelompok orang yang dekat dengan kekuasaan. Bahkan kue bernama anggaran dirasakan oleh sebagian masyarakat sangat tidak adil. Kondisi ini salah satunya akibat manajemen pemerintah yang menerapkan system feodalis alias system kerajaan, dengan kata lain system setor upeti dan nepotisme masih diberlakukan oleh segelentir penguasa. Rakyat Banten yth, mari kita bersama melihat kondisi ini dengan kacamata demokrasi dan utamanya dengan kacamata hukum agama, akankah hal ini kita biarkan terus menerus tanpa batas. Anda seorang pimpinan, Anda seorang tokoh, Anda seorang akademisi, Anda seorang jurnalis, Anda seorang ekonom atau Anda seorang pejabat birokrasi yang memiliki nurani, semuanya memiliki kewajiaban menegakan kebenaran dan keadilan. Mari bersama bersuara dan tegakan kebenaran dan keadilan di Banten. SELAMAT BERJUANG!!!
sumber : http://bantenpost.com/lapsus/?berita=BU/BNTP/10/10/0058
Seorang tokoh pejuang Propinsi Banten, H.Uwes Qorny (alm) dalam beberapa tulisannya juga menggambarkan situasi Banten yang tidak jauh berbeda pada zaman masa itu dengan zaman Orde Baru ( 1967-1970-an). Banten sebagai daerah bawahan propinsi Jawa Barat dan merasa berperan besar dalam merebut kemerdekaan Repbulik Indonesia, meminta kepada pemerintah Jawa Barat untuk memisahkan diri dan mengatur diri sendiri alias otonom (menjadi propinsi), namun apa tanggapan pemerintah Jawa Barat waktu itu, dengan sangat-sangat keras menolak, termasuk dari pemerintah pusat. Bahkan rakyat Banten dan tokoh-tokoh pemerkasa propinsi banyak mendapat ancaman dan banyak yang ditahan oleh penguasa.
Intinya, pada dua masa itu rakyat Banten mengalami keadaan dimana tidak hanya kondisi keburukan perekonomian, tapi juga kehilangan hak-hak politik dan warisan cultural, rakyat Banten merasa dihalang-halangi (sense of blockade) disemua bidang. Setelah Orde Baru tumbang dan berganti Orde Feformasi, kembali rakyat Banten sekuat tenaga melahirkan impianya yang setelah sekian tahun terkubur yaitu menjadi Propinis Banten.
Kini kurang lebih 9 tahun Propinsi Banten berdiri, tentunya kelahiran propinsi ini merupakan anugerah dan merupakan hasil jerih payah semua elemen masyarakat tidak terkecuali para kuli tinta. Mereka mendorong dengan tulisannya agar pemrintah pusat dan legislative segera merancang dan mengesahkan Undang_Undang Tentang Propinsi Banten.
Namun kondisi sampai tahun 2010 ini, rakyat Banten masih banyak mengalami ketidakadilan dan tekanan sekelompok orang yang dekat dengan kekuasaan. Bahkan kue bernama anggaran dirasakan oleh sebagian masyarakat sangat tidak adil. Kondisi ini salah satunya akibat manajemen pemerintah yang menerapkan system feodalis alias system kerajaan, dengan kata lain system setor upeti dan nepotisme masih diberlakukan oleh segelentir penguasa. Rakyat Banten yth, mari kita bersama melihat kondisi ini dengan kacamata demokrasi dan utamanya dengan kacamata hukum agama, akankah hal ini kita biarkan terus menerus tanpa batas. Anda seorang pimpinan, Anda seorang tokoh, Anda seorang akademisi, Anda seorang jurnalis, Anda seorang ekonom atau Anda seorang pejabat birokrasi yang memiliki nurani, semuanya memiliki kewajiaban menegakan kebenaran dan keadilan. Mari bersama bersuara dan tegakan kebenaran dan keadilan di Banten. SELAMAT BERJUANG!!!
sumber : http://bantenpost.com/lapsus/?berita=BU/BNTP/10/10/0058
ASSALAMU’ALAIKUM
Karya : DR. KH. TB. SANGADIAH, MA
Assalamu’alaikum…… Warohmatullohi lakum
Rojatu min wujudikum arodtu min arhamikum
Dulur-dulur jisim kuring buru-buru pada nyaring
Nyaring hate nyaring pikir ayeuna zaman geus akhir
Cirina zaman geus akhir alamatna atos dhohir
Nu karasa ku sadaya nu katingal kusadaya
Nu mawi kudu sing akur kolot budak misti campur
Dina jalan agamana ulah nurutkeun nafsuna
Karena eta nafsuna datang ti syetan pastina
Ulah pacingcalan bae lamun hayang jadi sae
Ulah gumede takabur lamun hayang jadi akur
Kedah buru-buru ngaji supaya jadi ngahiji
Ngajina kudu heulakeun ma’na syahadat ajikeun
Nya kitu dina qur’ana kedah terang jeung tajwidna
Sareng dina parabotna kitab nahu kawitana
Kitab ‘amil mimitina jurumiah kaduana
Kitab shorof katiluna eta talar sakabehna
Eta kabeh satiluna dimisalkeun tarajena
Timukeun sing saenyana mun ngaji rek sabenerna
Ngan sakitu amanatna jisim kuring pang hinana
Assalamu’alaikum…… Warohmatullohi lakum
Rojatu min wujudikum arodtu min arhamikum
Dulur-dulur jisim kuring buru-buru pada nyaring
Nyaring hate nyaring pikir ayeuna zaman geus akhir
Cirina zaman geus akhir alamatna atos dhohir
Nu karasa ku sadaya nu katingal kusadaya
Nu mawi kudu sing akur kolot budak misti campur
Dina jalan agamana ulah nurutkeun nafsuna
Karena eta nafsuna datang ti syetan pastina
Ulah pacingcalan bae lamun hayang jadi sae
Ulah gumede takabur lamun hayang jadi akur
Kedah buru-buru ngaji supaya jadi ngahiji
Ngajina kudu heulakeun ma’na syahadat ajikeun
Nya kitu dina qur’ana kedah terang jeung tajwidna
Sareng dina parabotna kitab nahu kawitana
Kitab ‘amil mimitina jurumiah kaduana
Kitab shorof katiluna eta talar sakabehna
Eta kabeh satiluna dimisalkeun tarajena
Timukeun sing saenyana mun ngaji rek sabenerna
Ngan sakitu amanatna jisim kuring pang hinana
The Cowboy City
Cerpen Toto ST Radik
BUKAN pemandangan aneh jika kini di Negeri Belewuk banyak orang membawa-bawa pistol. Bukan pistol mainan tentu, tapi pistol sungguhan dengan peluru sungguhan pula. Mereka, para pecinta pistol itu, juga telah membentuk semacam perkumpulan dengan nama Pistol Fans Club (PFC) yang konon anggotanya telah mencapai setengah juta orang hanya dalam waktu setahun. Bahkan Gubernur dan Wakil Gubernur bersedia menjadi pelindungnya, sementara para Bupati dan Walikota menjadi penasehat. Maka Negeri Belewuk, yang sebelumnya kondang dengan ketajaman goloknya, kini menyandang nama baru: the cowboy city.
Warung-warung pistol milik PFC bertebaran di seantero negeri, hingga ke pelosok kampung. Bersaingan dengan counter-counter telepon genggam. Berbagai jenis, bentuk dan merek pistol, dari yang klasik sampai yang berwarna-warni funky dapat diperoleh dengan mudah dan cepat, mulai yang seharga 500 ribuan sampai yang 500 jutaan. Tinggal pilih sesukanya. Suku cadangnya pun tersedia lengkap. Begitu pula aksesorisnya dengan beragam model menarik yang menambah sentuhan gaya.
“Warga yang baik dan bijak di abad modern sekarang ini adalah mereka yang memiliki pistol,” tutur Ratu Surgawi Khasiatun, ketua PFC yang dijuluki Ratu Pistol, saat launching warung pistolnya yang ke 356 di Kafe Terapung Abah Kuring, miliknya juga, yang terletak di tepi pantai yang indah. “Golok, pisau, pedang, keris, arit, clurit mah sudah kuno. Bukankah pepatah lama mengatakan ‘sedia payung sebelum hujan’?” sambungnya tegas.
“Tapi bagaimana kalau pistol itu digunakan untuk membunuh seperti yang akhir-akhir ini sering terjadi?” celetuk seorang wartawan lokal bertubuh kerempeng.
Ratu Pistol menebar senyum seraya membetulkan letak kerudung sutra birunya. Matanya yang bulat memancarkan sinar kecantikan yang tak pudar di usianya yang sudah melewati 40.
“Sungguh tidak masuk akal jika saya harus turut memikul tanggung jawab. Apakah pedagang korek api harus bertanggungjawab manakala seorang pembelinya menggunakan korek api itu untuk membakar rumah tetangganya?” jawab Ratu Pistol diplomatis. “Tentu di dunia ini tidak akan ada orang yang bakal memilih profesi sebagai pedagang!” lanjut Ratu Pistol menjawab pertanyaannya sendiri dengan suara mantap yang merdu.
Semua yang hadir terlongong-longong mendengar jawaban Ratu Pistol. Mereka mengagumi ketangkasan bicaranya, sekaligus terpukau oleh kecantikannya yang molek. Dan senyumnya, wuih!, ibarat sihir Monalisa dalam lukisan Leonardi da Vinci yang kesohor itu.
Demikianlah, launching itu pun diakhiri dengan santap siang yang mewah diiringi suara merdu seorang wanita melantunkan Killing Me Softly di antara debur ombak yang pecah membentur karang di bawah kafe. Ratu Pistol pun kemudian mengumumkan bahwa bagi pembeli pistol hari itu akan mendapatkan diskon limapuluh persen. Sedangkan untuk para wartawan yang datang meliput diberikannya cuma-cuma, masing-masing sepucuk.
“Tugas wartawan itu penuh resiko, makanya perlu menjaga keselamatan dengan pistol,” ujar Ratu Pistol kepada para wartawan yang mengangguk-angguk kekenyangan sekaligus senang mendapat pistol gratisan.
“Terima kasih, terima kasih. Anda memang benar-benar Ratu Pistol!” kata para wartawan serempak.
“Kalau boleh tahu, bagaimana bisnis ini bermula?” tanya seorang wartawan tambun sambil menimang-nimang pistol warna silver.
“Sederhana saja,” jawab Ratu Pistol. “Kira-kira setahun lalu saya membaca berita di koran bahwa banyak pejabat, anggota Dewan, bahkan juga Ibu Wagub, memiliki pistol. Entah bagaimana, naluri bisnis saya langsung muncul. Tanpa pikir panjang saya segera tancap gas memulai usaha ini. Ternyata laris manis. Ini benar-benar ajaib. Mungkin rejeki saya di pistol!” terangnya bersemangat.
“Wah, kalau begitu kita-kita juga punya andil terhadap usaha anda,” kata wartawan berkaca mata tebal.
“Itulah mengapa saya hadiahkan pistol untuk kalian semua. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih dari saya,” tukas Ratu Pistol.
“Bagaimana dengan saingan anda yang juga membuka warung-warung pistol?” Wartawan berambut kribo gaya Edi Brokoli angkat bicara.
“Saya justru senang, karena bisnis pistol akan tambah semarak.”
“Tidak takut tersaingi?”
“Ah, tidak. Mereka kan anggota PFC juga.” Ratu Pistol tersenyum penuh arti. “Anda-anda juga boleh mendaftar sebagai anggota. Banyak keuntungannya lho,” sambungnya berpromosi.
Ratu Pistol kemudian pamit kepada para wartawan. Berjalan anggun sekaligus gagah dengan pistol di pinggang kanan dan di pinggang kiri layaknya koboy Hollywood, menemui para pejabat yang sedang memilih-milih pistol keluaran terbaru.
“Wah, yang ini mahal sekali!” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
“Itu memang pistol Amerika dengan gaya klasik abad pertengahan,” jelas Ratu Pistol. “Dan hanya satu-satunya di Indonesia.”
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tampak menimbang-nimbang seraya mengelus-elus pistol Amerika itu. “Boleh dicoba?” tanyanya.
“O, tentu saja,” kata Ratu Pistol seraya memberi isyarat kepada sales promotion girl untuk mengeluarkan sekotak peluru. Ratu Pistol kemudian mengambil sebutir apel merah dan meletakkannya di bibir jendela kafe yang menghadap ke laut lepas.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata itu kemudian membidik sasaran. Matanya menatap lurus. Begitu jemarinya menarik picu, terdengar letusan yang begitu lembut, dan sebutir peluru ramping itu menderas melubangi apel merah. Ajaibnya, apel merah itu masih berada di bibir jendela, seolah tak tersentuh apa pun.
“Amazing, luar biasa!” cetus Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Semua yang hadir, sekali lagi, terlongong-longong oleh kejadian itu. Takjub.
Ratu Pistol tersenyum puas. “Bagaimana, Pak?”
“Ya, ya, ya. Ini memang keren. Saya ambil, tak perlu didiskon!”
Tentu saja para Kepala Dinas yang lain merasa cemburu. Mereka kontan memesan pistol yang sama kepada Ratu Pistol.
“Saya sepucuk!” kata Kepala Dinas Pasar.
“Saya dua!” seru Kepala Dinas Pendidikan.
“Saya tiga!” sergap ketua Komite Nasional Pemuda Kerajaan Medekul Negeri Belewuk.
“Saya usahakan secepatnya. Tapi pistol itu sangat langka dan harus dipesan secara khusus. Tentu ada biaya tambahan untuk itu,” Ratu Pistol menebar senyum.
“Jangan khawatir. Apalah artinya uang. Kebetulan lagi banyak proyek, nih!”
Ratu Pistol mengangguk. Kemudian kembali berkeliling menemui para pelanggannya.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan memekakkan telinga.
Ratu Pistol terjengkang, membentur meja makan. Darah muncrat dari dadanya. Tangannya menggapai-gapai mencari pegangan.
Suara tembakan lagi. Kali ini dua kali.
Ratu Pistol berkelojotan. Meregang nyawa. Tubuhnya ambruk di lantai marmar, bermandi darah.
Semua orang terpana.
Kejadian itu begitu cepat.
Para pengawal Ratu Pistol yang berjaga-jaga di luar, menghambur ke dalam dengan pistol teracung. Mereka marah melihat Ratu Pistol terkapar tanpa nyawa. Dan ketika mereka melihat seorang bocah berseragam putih-biru menggenggam pistol di tangan kanan dan kirinya seraya menyeringai puas, mereka serempak meletupkan pistol. Bocah itu pun dihantam sepuluh peluru sekaligus. Tubuhnya membentur tembok sebelum layu terkulai. Dari sekujur tubuhnya yang berlubang, darah bersemburan seperti air mancur di taman kota.
Semua orang masih terpana diam oleh pukau kejadian yang terjadi secara beruntun tapi amat cepat itu. Mereka merasa seperti sedang menonton adegan film Hollywood. Namun ketika mereka menyadari bahwa semua itu adalah nyata, mereka berhamburan ke luar kafe seraya berteriak-teriak histeris.
Para pengawal Ratu Pistol memeriksa mayat bocah itu. Dari saku celana bocah itu ditemukan secarik kertas yang berlumuran darah. Di situ tertulis: RATU PISTOL SUDAH MATI![1]
Keesokan harinya, koran-koran lokal dan nasional menurunkan berita kematian Ratu Pistol di halaman pertama.
Penduduk Negeri Belewuk gempar.
Seluruh anggota PFC menangis.
Mayat bocah itu digantung di alun-alun kota. Tubuhnya berserpihan ditembaki suami dan anak-anak Ratu Pistol serta seluruh anggota PFC yang marah. Bahkan serpihan kecil di sela rumputan pun masih ditembaki pula hingga benar-benar menjadi debu.
Seorang pengamat politik lokal menulis di koran lokal bahwa bocah ingusan itu pasti telah dicuci otak oleh seseorang yang menginginkan kematian Ratu Pistol. “Motifnya persaingan bisnis atau bisa pula bermuatan politis. Maklumlah menjelang pemilu!” tulisnya.
Gubernur dan Wakil Gubernur mengumumkan bahwa hari kematian Ratu Pistol ditetapkan sebagai hari berkabung dan Ratu Pistol akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Negeri Belewuk. Selain itu, Gubernur dan Wakil Gubernur juga menginstruksikan kepada seluruh warganya untuk mencari dan menemukan aktor intelektual yang mendalangi pembunuhan itu, hidup atau mati.
Sejak saat itu Negeri Belewuk diliputi syak wasangka, saling bercuriga satu sama lain. Orang-orang yang ditengarai pesaing bisnis Ratu Pistol didor begitu saja. Begitu pula para politikus yang diduga memiliki motif-motif kuat menghabisi nyawa Ratu Pistol. Keluarga dan kerabat yang didor tentu saja tidak menerima perlakuan seperti itu. Mereka pun menuntut balas dan memburu yang mengdor. Dor! Dor!
Dor! Dor! Dor!
Demikianlah, di Negeri Belewuk, setiap hari selalu saja terdengar letusan pistol dan seseorang terkapar bersimbah darah. Dor! Dor! Dor! Dor!
Besok mungkin giliran anda!
Dor!
***
DISEBABKAN oleh peristiwa penembakan dan pembunuhan yang berlangsung nyaris setiap hari, banyak hantu bergentayangan di Negeri Belewuk. Mereka, para hantu penasaran itu, ingin menuntut balas, semacam dendam kesumat yang tidak akan pernah sirna sebelum terlunaskan.
Suatu malam mereka berkumpul di alun-alun kota.
“Saudara-saudaraku yang tercinta!” seru Hantu Ratu Surgawi Khasiatun alias Ratu Pistol yang tiba-tiba melompat ke atas mimbar dan meraih mikropon serta memasukannya ke dalam mulutnya yang lebar. “Rasanya jumlah kita semakin banyak saja. Itu berarti, perang di Negeri Belewuk semakin ganas. Dan kita, orang-orang yang tidak berdosa, menjadi korbannya. Menjadi hantu. Oleh karena itu, kita harus bersatu melawan kedzaliman ini. Kita harus kembali menjadi manusia. Menjadi manusia!”
Hening.
Sunyi.
Hantu-hantu saling pandang.
Terdengar dengung gumam.
Hantu Ratu Pistol mengedar pandang, menatap tajam.
Bulan bergegas menyingkir ke balik awan hitam.
Langit seperti merendah, menghimpit.
“Setuju!” Tiba-tiba terdengar pekik dari tengah kerumunan.
Tiga setengah detik sunyi.
“Setuju!” Sepekik tanggapan terdengar dari sudut timur.
“Setujuuuuu!” Akhirnya para hantu memekik bersama-sama. Pekik yang membahana, membuat udara seketika berguncang keras.
Hantu Ratu Pistol tersenyum puas.
“Maka oleh karena saudara-saudara sekalian telah setuju, marilah kita merapatkan barisan, bersatu dalam kesatuan dan persatuan yang berpadu bahu membahu! Tujuan kita hanya satu: kembali menjadi manusia utuh seluruh!”
“Betul! Kita harus dikembalikan sebagai manusia! Kalau tidak, kita siap berperang!”
“Ya! Kita harus menuntut balas! Ini demi kehormatan kita!”
“Kita ganyang saja mereka!”
“Ya, ganyang!”
“Allahu Akb…”
“Huss! Hantu kok bilang Allahu Akbar?”
“Lha, barusan situ bilang apa?”
“Aku sih cuma ngingetin dia.”
“Sekarang juga kita demo ke Dewan dan Gubernuran!”
“Setujuuu! Kita demooo!”
“Kita demo, euy!”
“Asyik, kita demo! Profesiku kan demonstran!”
Hantu Ratu Pistol mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Alun-alun kembali hening. “Demi kehormatan dan martabat kita sebagai manusia yang menolak dijadikan hantu, mari kita bergerak!” serunya dengan sepenuh suaranya yang menggelegar mengguncang langit dan bumi.
“Tunggu!”
Sesuara yang lebih menggelegar membuat semua hantu yang hendak bergegas seketika diam terpaku. Semua mata tertancap pada sesosok hantu yang begitu santai nangkring di pucuk tiang bekas lomba panjat pinang.
“Mbok ya jangan grasa-grusu gitu. Santai sajalah menyikapi segala sesuatu,” kata Hantu Gundul Krempeng itu sambil mengunyah kripik singkong manis pedas.
“Anda siapa?” tanya Hantu Ratu Pistol yang merasa terganggu.
“Tentu saja saya juga hantu seperti anda,” jawab Hantu Gundul Krempeng, enteng dan resmi.
“Anda baru tiba, ya?”
“Hehehe, jangan ander estimet dong sama gua. Gua ini sudah ribuan tahun di sini dan berbahagia sebagai hantu.”
“Apa buktinya kamu sudah ribuan tahun di sini?”
“Nih, lihat. Bulu kelek alias bulu ketiak gua lebih lebat dibandingkan semua bulu kelek saudara-saudara. Kalau kagak percaya, hitung dan jumlahkan bulu kelek saudara-saudara, lalu hitung bulu kelek gua. Nih!” jawab Hantu Gundul Krempeng memperlihatkan bulu ketiaknya yang menggumpal-gumpal luar biasa dahsyatnya.
“Kamu jangan melucu! Kita lagi serius!” Hantu Artis unjuk suara.
“Hehehe, lu jangan tersinggung gitu dong. Gua tau lu kagak punya bulu kelek sehelai pun. Makanya waktu jadi manusia jangan suka cukur bulu kelek! Mentang-mentang artis.”
Hantu Artis diam tak menjawab. Dia benar-benar malu sekaligus sungguh-sungguh takjub si Gundul Krempeng itu tahu bahwa di kedua ketiaknya, juga bagian-bagian berbulu lainnya, sama sekali tidak berbulu.
“Benar kamu tidak punya bulu ketek?” tanya Hantu Ratu Pistol penasaran.
“Hi…hiya,” jawab Hantu Artis tersipu malu.
“Apa gua bilang? Betul, kan? Hahaha…” Hantu Gundul Krempeng tertawa panjang. “Hanya hantu berpengalaman yang tahu bagian paling tersembunyi sekalipun!”
“Luar biasa! Dia benar-benar hantu gaek!”
“Hiya. Top banget. Dia yang pantas jadi pemimpin kita!” seru hantu-hantu yang lain.
“Lantas apa usulmu, Gundul Krempeng?” tantang Hantu Ratu Pistol.
Hantu Gundul Krempeng menyalakan cerutu dan menikmatinya dengan sepenuh khidmat.
“Apa usul kamu, Krempeng Gundul? Jangan cuma omdo!” Hantu Ratu Pistol geram.
Hantu Gundul Krempeng tersenyum. “Pertama, kamu harus menyingkir terlebih dahulu dari mimbar,” katanya. Kali ini suaranya begitu mantap dan berwibawa. “Gua tidak ingin para hantu yang hadir di sini menganggap gua kudeta. Jadi turunlah dengan sukarela dan sukacita!”
“Kalau saya tetap berada di sini?”
“Itu terserah kamu, Atun. Tapi kamu harus mendengarkan suara rakyat!”
“Benar! Kamu turun saja! Biar dia yang di atas mimbar! Sekarang dia yang memimpin! Ayo, turun sekarang juga! Hidup Hantu Gundul Krempeng!” pekik hantu-hantu.
Hantu Ratu Pistol kecut. Nyalinya menciut. Tubuhnya mengerut. Terbirit turun panggung terkentut-kentut.
“Heheheh,” Hantu Gundul Krempeng tertawa renyah. Secepat kilat nangkring ongkang-ongkang kaki di atas mimbar seraya menyantap nasi goreng yang masih mengepul-ngepul panas dan sepuluh, mungkin selusin, bonggol petai.
“Dari mana dia dapat nasi goreng dan petai-petai itu, ya?” gumam Hantu Berdasi terkagum-kagum. Lidahnya terjulur, air liurnya menghambur. Mungkin dulunya hidup serupa anjing.
“Namanya juga hantu senior, pasti sakti mandraguna, deh!” tanggap Hantu Waria berbaju seksi.
Hantu Gundul Kerempeng sendawa kekenyangan. “Wahai dulur-dulurku, berbahagialah menjadi hantu ketimbang menjadi manusia Negeri Belewuk!” katanya memulai pidato. “Percayalah, hidup sebagai hantu lebih menyenangkan dan lebih mulia daripada mereka. Maka mari kita permainkan manusia-manusia dungu itu, supaya hidup mereka terus menerus hina karena berkubang dalam comberan!”
“Bagaimana caranya?”
“Gampang sekali, dulur-dulur. Gua sudah bikin renstranya. Baca dan pelajari saja!" Hantu Gundul Krempeng mengeluarkan buku tebal bersampul putih dari kantong bajunya. Judulnya “Rencana Strategis Hegemoni Hantu Terhadap Manusia Negeri Belewuk Tahun 2002-2006 Beserta Petunjuk Pelaksanaan, Petunjuk Teknis, Indikator Kinerja, dan Standar Pelayanan Minimal”.
Beratus-ratus, mungkin beribu-ribu, buku dia lemparkan ke berbagai arah. Semua hantu kebagian. Semua hantu terlongong-longong menyaksikan keajaiban itu. Bagaimana mungkin kantong sekecil itu menyimpan beribu-ribu buku. Memangnya dia Doraemon? “Jangan bengong, ah! Baca! Bacalah atas nama hantu!” kata Hantu Gundul Krempeng.
Para hantu itu pun khusyuk membaca seraya mesam-mesem.
Hantu Gundul Krempeng menari poco-poco.
Tujuh menit kemudian: “Kalian paham? Kalian siap?”
“Kami paham! Kami siap! Asyik nian, nih!”
“Kalau begitu, mulai besok, ketika fajar menyingsing, kita semua bekerja secara cerdas dan intelek menguasai kehidupan mereka, manusia Negeri Belewuk yang bloon itu! Target kita, pada akhir tahun 2006 seluruh manusia di Negeri Belewuk menjelma menjadi manusia bebongkong, sejenis mahluk yang bukan manusia bukan hantu. Mahluk yang tidak punya derajat dan martabat, mahluk yang lebih rendah dari binatang paling rendah! Heheheh.”
***
HARI demi hari melaju. Setiap malam para hantu berkumpul di alun-alun kota. Berbagi kabar dan daftar kesuksesan kerja mereka. Lalu menyanyi, menari, berpesta. Wajah mereka penuh sukacita. Sumringah. Bahagia.
“Lucu banget deh ngeliat para manusia itu rebutan jabatan. Hihihih!”
“Gua sih spesialis bidang pendidikan, banyak yang beli ijasah aspal! Bahkan doktor dan profesor!”
“Mereka berantem soal duit perumahan! Hahahah!”
“Mereka teler sabu-sabu!”
“Main api! Selingkuh! Uhuy!”
“Wah, korupsinya makin canggih lo di bulan puasa! Buat beli kolak dan baju lebaran!”
“Kursi sudah jadi tuhan! Asyiiik!”
“Yang ngelamar nyogok, yang dilamar disogok. Goblok, ya!”
“Ada yang lebih bego. Bikin laporan salah ketik melulu!”
“Mereka pasang nama-nama tuhan, lalu mereka kencingi sendiri! Dasar culun!”
“Aghjertut bluk dog jer bup hik. Angob!”
“Slamakotik patunge bercakik hatik tad glem jok tut!”
“Mambu. Glek cpnsd limelas jute. Hihihih!”
“Cubluk! Blakikok foph gerrz!”
“Hiya, dokunewahdsguikblep tul mentul cokhop gub bledeh.”
“Wuih beregok huik ngebor!”
“Poke boljug! Ntut psing moraliteit religine jbug bloh kuh!”
“Brujut jrut. Hoek…!”
“Mukelu jaoouh. Hahahah!”
“Bagus!” seru Hantu Gundul Krempeng sambil goyang ngebor goyang ngecor. “Teruslah bekerja dengan cerdas dan seksama. Kita porak-porandakan sendi-sendi kehidupan mereka yang rapuh itu. Kita hina-dinakan mereka! Bikin mereka mabuk paling mabuk. Jerumuskan mereka dalam kubangan lumpur kotor hitam bau yang mereka sangka istana emas harum. Mereka sesungguhnya payah tapi pongah! Mereka sesungguhnya dungu tapi belagu! Mereka sesungguhnya…”
Hantu Gundul Krempeng menengadah ke langit pekat.
Sunyi selusin detik.
“Bukan manusia,” desis Hantu Gundul Krempeng.
“Tapi juga bukan hantu!” seru hantu-hantu.
“Mereka sesungguhnya tiada.”
“Menyedihkan.”
“Sungguh malang.”
“kaciaaaan deh lu!”
“Huahahahehehihihohoho…!”
***
DI pojok paling gelap, sesosok hantu memperhatikan kesenangan pesta itu. Raut wajahnya mengeras menahan geram, matanya merah berkobar-kobar. “Si Gundul Krempeng itu benar-benar manusia Belewuk. Bahkan menyaru sebagai hantu pun dia sangat lihai,” gumamnya. “Dia harus segera ditumpas!”
“Sabar, sayang. Aku sudah tahu kok siapa dia sebenarnya. Aku juga sudah tahu kelemahannya. Biarkan dia bersenang-senang dahulu. Kesenangan akan membuatnya lengah dan lemah,” bisik Hantu Ratu Pistol alias Atun alias Ratu Surgawi Khasiatun, tersenyum manis.
Hantu Mata Merah Berkobar-kobar menghunjamkan tatapannya dalam-dalam, mencari rahasia tersembunyi di balik kebeningan mata Hantu Ratu Pistol. Dan yang ditemukannya adalah kedipan mata selaksa makna.
“Mari, honey …”
“Ah, kamu …”
Dan sambil bergandengan tangan mereka pun melangkah ke kegelapan.***
Serang, 2003
- Dibukukan dalam Dongeng Sebelum Tidur, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2005.
[1] Mungkin bocah berseragam putih-biru itu sangat terpengaruh Dendang Zarathustra-nya Nietschze sehingga menuliskan kalimat seperti itu, pelintiran dari kalimat got is tot (Tuhan sudah mati).
BUKAN pemandangan aneh jika kini di Negeri Belewuk banyak orang membawa-bawa pistol. Bukan pistol mainan tentu, tapi pistol sungguhan dengan peluru sungguhan pula. Mereka, para pecinta pistol itu, juga telah membentuk semacam perkumpulan dengan nama Pistol Fans Club (PFC) yang konon anggotanya telah mencapai setengah juta orang hanya dalam waktu setahun. Bahkan Gubernur dan Wakil Gubernur bersedia menjadi pelindungnya, sementara para Bupati dan Walikota menjadi penasehat. Maka Negeri Belewuk, yang sebelumnya kondang dengan ketajaman goloknya, kini menyandang nama baru: the cowboy city.
Warung-warung pistol milik PFC bertebaran di seantero negeri, hingga ke pelosok kampung. Bersaingan dengan counter-counter telepon genggam. Berbagai jenis, bentuk dan merek pistol, dari yang klasik sampai yang berwarna-warni funky dapat diperoleh dengan mudah dan cepat, mulai yang seharga 500 ribuan sampai yang 500 jutaan. Tinggal pilih sesukanya. Suku cadangnya pun tersedia lengkap. Begitu pula aksesorisnya dengan beragam model menarik yang menambah sentuhan gaya.
“Warga yang baik dan bijak di abad modern sekarang ini adalah mereka yang memiliki pistol,” tutur Ratu Surgawi Khasiatun, ketua PFC yang dijuluki Ratu Pistol, saat launching warung pistolnya yang ke 356 di Kafe Terapung Abah Kuring, miliknya juga, yang terletak di tepi pantai yang indah. “Golok, pisau, pedang, keris, arit, clurit mah sudah kuno. Bukankah pepatah lama mengatakan ‘sedia payung sebelum hujan’?” sambungnya tegas.
“Tapi bagaimana kalau pistol itu digunakan untuk membunuh seperti yang akhir-akhir ini sering terjadi?” celetuk seorang wartawan lokal bertubuh kerempeng.
Ratu Pistol menebar senyum seraya membetulkan letak kerudung sutra birunya. Matanya yang bulat memancarkan sinar kecantikan yang tak pudar di usianya yang sudah melewati 40.
“Sungguh tidak masuk akal jika saya harus turut memikul tanggung jawab. Apakah pedagang korek api harus bertanggungjawab manakala seorang pembelinya menggunakan korek api itu untuk membakar rumah tetangganya?” jawab Ratu Pistol diplomatis. “Tentu di dunia ini tidak akan ada orang yang bakal memilih profesi sebagai pedagang!” lanjut Ratu Pistol menjawab pertanyaannya sendiri dengan suara mantap yang merdu.
Semua yang hadir terlongong-longong mendengar jawaban Ratu Pistol. Mereka mengagumi ketangkasan bicaranya, sekaligus terpukau oleh kecantikannya yang molek. Dan senyumnya, wuih!, ibarat sihir Monalisa dalam lukisan Leonardi da Vinci yang kesohor itu.
Demikianlah, launching itu pun diakhiri dengan santap siang yang mewah diiringi suara merdu seorang wanita melantunkan Killing Me Softly di antara debur ombak yang pecah membentur karang di bawah kafe. Ratu Pistol pun kemudian mengumumkan bahwa bagi pembeli pistol hari itu akan mendapatkan diskon limapuluh persen. Sedangkan untuk para wartawan yang datang meliput diberikannya cuma-cuma, masing-masing sepucuk.
“Tugas wartawan itu penuh resiko, makanya perlu menjaga keselamatan dengan pistol,” ujar Ratu Pistol kepada para wartawan yang mengangguk-angguk kekenyangan sekaligus senang mendapat pistol gratisan.
“Terima kasih, terima kasih. Anda memang benar-benar Ratu Pistol!” kata para wartawan serempak.
“Kalau boleh tahu, bagaimana bisnis ini bermula?” tanya seorang wartawan tambun sambil menimang-nimang pistol warna silver.
“Sederhana saja,” jawab Ratu Pistol. “Kira-kira setahun lalu saya membaca berita di koran bahwa banyak pejabat, anggota Dewan, bahkan juga Ibu Wagub, memiliki pistol. Entah bagaimana, naluri bisnis saya langsung muncul. Tanpa pikir panjang saya segera tancap gas memulai usaha ini. Ternyata laris manis. Ini benar-benar ajaib. Mungkin rejeki saya di pistol!” terangnya bersemangat.
“Wah, kalau begitu kita-kita juga punya andil terhadap usaha anda,” kata wartawan berkaca mata tebal.
“Itulah mengapa saya hadiahkan pistol untuk kalian semua. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih dari saya,” tukas Ratu Pistol.
“Bagaimana dengan saingan anda yang juga membuka warung-warung pistol?” Wartawan berambut kribo gaya Edi Brokoli angkat bicara.
“Saya justru senang, karena bisnis pistol akan tambah semarak.”
“Tidak takut tersaingi?”
“Ah, tidak. Mereka kan anggota PFC juga.” Ratu Pistol tersenyum penuh arti. “Anda-anda juga boleh mendaftar sebagai anggota. Banyak keuntungannya lho,” sambungnya berpromosi.
Ratu Pistol kemudian pamit kepada para wartawan. Berjalan anggun sekaligus gagah dengan pistol di pinggang kanan dan di pinggang kiri layaknya koboy Hollywood, menemui para pejabat yang sedang memilih-milih pistol keluaran terbaru.
“Wah, yang ini mahal sekali!” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
“Itu memang pistol Amerika dengan gaya klasik abad pertengahan,” jelas Ratu Pistol. “Dan hanya satu-satunya di Indonesia.”
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tampak menimbang-nimbang seraya mengelus-elus pistol Amerika itu. “Boleh dicoba?” tanyanya.
“O, tentu saja,” kata Ratu Pistol seraya memberi isyarat kepada sales promotion girl untuk mengeluarkan sekotak peluru. Ratu Pistol kemudian mengambil sebutir apel merah dan meletakkannya di bibir jendela kafe yang menghadap ke laut lepas.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata itu kemudian membidik sasaran. Matanya menatap lurus. Begitu jemarinya menarik picu, terdengar letusan yang begitu lembut, dan sebutir peluru ramping itu menderas melubangi apel merah. Ajaibnya, apel merah itu masih berada di bibir jendela, seolah tak tersentuh apa pun.
“Amazing, luar biasa!” cetus Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Semua yang hadir, sekali lagi, terlongong-longong oleh kejadian itu. Takjub.
Ratu Pistol tersenyum puas. “Bagaimana, Pak?”
“Ya, ya, ya. Ini memang keren. Saya ambil, tak perlu didiskon!”
Tentu saja para Kepala Dinas yang lain merasa cemburu. Mereka kontan memesan pistol yang sama kepada Ratu Pistol.
“Saya sepucuk!” kata Kepala Dinas Pasar.
“Saya dua!” seru Kepala Dinas Pendidikan.
“Saya tiga!” sergap ketua Komite Nasional Pemuda Kerajaan Medekul Negeri Belewuk.
“Saya usahakan secepatnya. Tapi pistol itu sangat langka dan harus dipesan secara khusus. Tentu ada biaya tambahan untuk itu,” Ratu Pistol menebar senyum.
“Jangan khawatir. Apalah artinya uang. Kebetulan lagi banyak proyek, nih!”
Ratu Pistol mengangguk. Kemudian kembali berkeliling menemui para pelanggannya.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan memekakkan telinga.
Ratu Pistol terjengkang, membentur meja makan. Darah muncrat dari dadanya. Tangannya menggapai-gapai mencari pegangan.
Suara tembakan lagi. Kali ini dua kali.
Ratu Pistol berkelojotan. Meregang nyawa. Tubuhnya ambruk di lantai marmar, bermandi darah.
Semua orang terpana.
Kejadian itu begitu cepat.
Para pengawal Ratu Pistol yang berjaga-jaga di luar, menghambur ke dalam dengan pistol teracung. Mereka marah melihat Ratu Pistol terkapar tanpa nyawa. Dan ketika mereka melihat seorang bocah berseragam putih-biru menggenggam pistol di tangan kanan dan kirinya seraya menyeringai puas, mereka serempak meletupkan pistol. Bocah itu pun dihantam sepuluh peluru sekaligus. Tubuhnya membentur tembok sebelum layu terkulai. Dari sekujur tubuhnya yang berlubang, darah bersemburan seperti air mancur di taman kota.
Semua orang masih terpana diam oleh pukau kejadian yang terjadi secara beruntun tapi amat cepat itu. Mereka merasa seperti sedang menonton adegan film Hollywood. Namun ketika mereka menyadari bahwa semua itu adalah nyata, mereka berhamburan ke luar kafe seraya berteriak-teriak histeris.
Para pengawal Ratu Pistol memeriksa mayat bocah itu. Dari saku celana bocah itu ditemukan secarik kertas yang berlumuran darah. Di situ tertulis: RATU PISTOL SUDAH MATI![1]
Keesokan harinya, koran-koran lokal dan nasional menurunkan berita kematian Ratu Pistol di halaman pertama.
Penduduk Negeri Belewuk gempar.
Seluruh anggota PFC menangis.
Mayat bocah itu digantung di alun-alun kota. Tubuhnya berserpihan ditembaki suami dan anak-anak Ratu Pistol serta seluruh anggota PFC yang marah. Bahkan serpihan kecil di sela rumputan pun masih ditembaki pula hingga benar-benar menjadi debu.
Seorang pengamat politik lokal menulis di koran lokal bahwa bocah ingusan itu pasti telah dicuci otak oleh seseorang yang menginginkan kematian Ratu Pistol. “Motifnya persaingan bisnis atau bisa pula bermuatan politis. Maklumlah menjelang pemilu!” tulisnya.
Gubernur dan Wakil Gubernur mengumumkan bahwa hari kematian Ratu Pistol ditetapkan sebagai hari berkabung dan Ratu Pistol akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Negeri Belewuk. Selain itu, Gubernur dan Wakil Gubernur juga menginstruksikan kepada seluruh warganya untuk mencari dan menemukan aktor intelektual yang mendalangi pembunuhan itu, hidup atau mati.
Sejak saat itu Negeri Belewuk diliputi syak wasangka, saling bercuriga satu sama lain. Orang-orang yang ditengarai pesaing bisnis Ratu Pistol didor begitu saja. Begitu pula para politikus yang diduga memiliki motif-motif kuat menghabisi nyawa Ratu Pistol. Keluarga dan kerabat yang didor tentu saja tidak menerima perlakuan seperti itu. Mereka pun menuntut balas dan memburu yang mengdor. Dor! Dor!
Dor! Dor! Dor!
Demikianlah, di Negeri Belewuk, setiap hari selalu saja terdengar letusan pistol dan seseorang terkapar bersimbah darah. Dor! Dor! Dor! Dor!
Besok mungkin giliran anda!
Dor!
***
DISEBABKAN oleh peristiwa penembakan dan pembunuhan yang berlangsung nyaris setiap hari, banyak hantu bergentayangan di Negeri Belewuk. Mereka, para hantu penasaran itu, ingin menuntut balas, semacam dendam kesumat yang tidak akan pernah sirna sebelum terlunaskan.
Suatu malam mereka berkumpul di alun-alun kota.
“Saudara-saudaraku yang tercinta!” seru Hantu Ratu Surgawi Khasiatun alias Ratu Pistol yang tiba-tiba melompat ke atas mimbar dan meraih mikropon serta memasukannya ke dalam mulutnya yang lebar. “Rasanya jumlah kita semakin banyak saja. Itu berarti, perang di Negeri Belewuk semakin ganas. Dan kita, orang-orang yang tidak berdosa, menjadi korbannya. Menjadi hantu. Oleh karena itu, kita harus bersatu melawan kedzaliman ini. Kita harus kembali menjadi manusia. Menjadi manusia!”
Hening.
Sunyi.
Hantu-hantu saling pandang.
Terdengar dengung gumam.
Hantu Ratu Pistol mengedar pandang, menatap tajam.
Bulan bergegas menyingkir ke balik awan hitam.
Langit seperti merendah, menghimpit.
“Setuju!” Tiba-tiba terdengar pekik dari tengah kerumunan.
Tiga setengah detik sunyi.
“Setuju!” Sepekik tanggapan terdengar dari sudut timur.
“Setujuuuuu!” Akhirnya para hantu memekik bersama-sama. Pekik yang membahana, membuat udara seketika berguncang keras.
Hantu Ratu Pistol tersenyum puas.
“Maka oleh karena saudara-saudara sekalian telah setuju, marilah kita merapatkan barisan, bersatu dalam kesatuan dan persatuan yang berpadu bahu membahu! Tujuan kita hanya satu: kembali menjadi manusia utuh seluruh!”
“Betul! Kita harus dikembalikan sebagai manusia! Kalau tidak, kita siap berperang!”
“Ya! Kita harus menuntut balas! Ini demi kehormatan kita!”
“Kita ganyang saja mereka!”
“Ya, ganyang!”
“Allahu Akb…”
“Huss! Hantu kok bilang Allahu Akbar?”
“Lha, barusan situ bilang apa?”
“Aku sih cuma ngingetin dia.”
“Sekarang juga kita demo ke Dewan dan Gubernuran!”
“Setujuuu! Kita demooo!”
“Kita demo, euy!”
“Asyik, kita demo! Profesiku kan demonstran!”
Hantu Ratu Pistol mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Alun-alun kembali hening. “Demi kehormatan dan martabat kita sebagai manusia yang menolak dijadikan hantu, mari kita bergerak!” serunya dengan sepenuh suaranya yang menggelegar mengguncang langit dan bumi.
“Tunggu!”
Sesuara yang lebih menggelegar membuat semua hantu yang hendak bergegas seketika diam terpaku. Semua mata tertancap pada sesosok hantu yang begitu santai nangkring di pucuk tiang bekas lomba panjat pinang.
“Mbok ya jangan grasa-grusu gitu. Santai sajalah menyikapi segala sesuatu,” kata Hantu Gundul Krempeng itu sambil mengunyah kripik singkong manis pedas.
“Anda siapa?” tanya Hantu Ratu Pistol yang merasa terganggu.
“Tentu saja saya juga hantu seperti anda,” jawab Hantu Gundul Krempeng, enteng dan resmi.
“Anda baru tiba, ya?”
“Hehehe, jangan ander estimet dong sama gua. Gua ini sudah ribuan tahun di sini dan berbahagia sebagai hantu.”
“Apa buktinya kamu sudah ribuan tahun di sini?”
“Nih, lihat. Bulu kelek alias bulu ketiak gua lebih lebat dibandingkan semua bulu kelek saudara-saudara. Kalau kagak percaya, hitung dan jumlahkan bulu kelek saudara-saudara, lalu hitung bulu kelek gua. Nih!” jawab Hantu Gundul Krempeng memperlihatkan bulu ketiaknya yang menggumpal-gumpal luar biasa dahsyatnya.
“Kamu jangan melucu! Kita lagi serius!” Hantu Artis unjuk suara.
“Hehehe, lu jangan tersinggung gitu dong. Gua tau lu kagak punya bulu kelek sehelai pun. Makanya waktu jadi manusia jangan suka cukur bulu kelek! Mentang-mentang artis.”
Hantu Artis diam tak menjawab. Dia benar-benar malu sekaligus sungguh-sungguh takjub si Gundul Krempeng itu tahu bahwa di kedua ketiaknya, juga bagian-bagian berbulu lainnya, sama sekali tidak berbulu.
“Benar kamu tidak punya bulu ketek?” tanya Hantu Ratu Pistol penasaran.
“Hi…hiya,” jawab Hantu Artis tersipu malu.
“Apa gua bilang? Betul, kan? Hahaha…” Hantu Gundul Krempeng tertawa panjang. “Hanya hantu berpengalaman yang tahu bagian paling tersembunyi sekalipun!”
“Luar biasa! Dia benar-benar hantu gaek!”
“Hiya. Top banget. Dia yang pantas jadi pemimpin kita!” seru hantu-hantu yang lain.
“Lantas apa usulmu, Gundul Krempeng?” tantang Hantu Ratu Pistol.
Hantu Gundul Krempeng menyalakan cerutu dan menikmatinya dengan sepenuh khidmat.
“Apa usul kamu, Krempeng Gundul? Jangan cuma omdo!” Hantu Ratu Pistol geram.
Hantu Gundul Krempeng tersenyum. “Pertama, kamu harus menyingkir terlebih dahulu dari mimbar,” katanya. Kali ini suaranya begitu mantap dan berwibawa. “Gua tidak ingin para hantu yang hadir di sini menganggap gua kudeta. Jadi turunlah dengan sukarela dan sukacita!”
“Kalau saya tetap berada di sini?”
“Itu terserah kamu, Atun. Tapi kamu harus mendengarkan suara rakyat!”
“Benar! Kamu turun saja! Biar dia yang di atas mimbar! Sekarang dia yang memimpin! Ayo, turun sekarang juga! Hidup Hantu Gundul Krempeng!” pekik hantu-hantu.
Hantu Ratu Pistol kecut. Nyalinya menciut. Tubuhnya mengerut. Terbirit turun panggung terkentut-kentut.
“Heheheh,” Hantu Gundul Krempeng tertawa renyah. Secepat kilat nangkring ongkang-ongkang kaki di atas mimbar seraya menyantap nasi goreng yang masih mengepul-ngepul panas dan sepuluh, mungkin selusin, bonggol petai.
“Dari mana dia dapat nasi goreng dan petai-petai itu, ya?” gumam Hantu Berdasi terkagum-kagum. Lidahnya terjulur, air liurnya menghambur. Mungkin dulunya hidup serupa anjing.
“Namanya juga hantu senior, pasti sakti mandraguna, deh!” tanggap Hantu Waria berbaju seksi.
Hantu Gundul Kerempeng sendawa kekenyangan. “Wahai dulur-dulurku, berbahagialah menjadi hantu ketimbang menjadi manusia Negeri Belewuk!” katanya memulai pidato. “Percayalah, hidup sebagai hantu lebih menyenangkan dan lebih mulia daripada mereka. Maka mari kita permainkan manusia-manusia dungu itu, supaya hidup mereka terus menerus hina karena berkubang dalam comberan!”
“Bagaimana caranya?”
“Gampang sekali, dulur-dulur. Gua sudah bikin renstranya. Baca dan pelajari saja!" Hantu Gundul Krempeng mengeluarkan buku tebal bersampul putih dari kantong bajunya. Judulnya “Rencana Strategis Hegemoni Hantu Terhadap Manusia Negeri Belewuk Tahun 2002-2006 Beserta Petunjuk Pelaksanaan, Petunjuk Teknis, Indikator Kinerja, dan Standar Pelayanan Minimal”.
Beratus-ratus, mungkin beribu-ribu, buku dia lemparkan ke berbagai arah. Semua hantu kebagian. Semua hantu terlongong-longong menyaksikan keajaiban itu. Bagaimana mungkin kantong sekecil itu menyimpan beribu-ribu buku. Memangnya dia Doraemon? “Jangan bengong, ah! Baca! Bacalah atas nama hantu!” kata Hantu Gundul Krempeng.
Para hantu itu pun khusyuk membaca seraya mesam-mesem.
Hantu Gundul Krempeng menari poco-poco.
Tujuh menit kemudian: “Kalian paham? Kalian siap?”
“Kami paham! Kami siap! Asyik nian, nih!”
“Kalau begitu, mulai besok, ketika fajar menyingsing, kita semua bekerja secara cerdas dan intelek menguasai kehidupan mereka, manusia Negeri Belewuk yang bloon itu! Target kita, pada akhir tahun 2006 seluruh manusia di Negeri Belewuk menjelma menjadi manusia bebongkong, sejenis mahluk yang bukan manusia bukan hantu. Mahluk yang tidak punya derajat dan martabat, mahluk yang lebih rendah dari binatang paling rendah! Heheheh.”
***
HARI demi hari melaju. Setiap malam para hantu berkumpul di alun-alun kota. Berbagi kabar dan daftar kesuksesan kerja mereka. Lalu menyanyi, menari, berpesta. Wajah mereka penuh sukacita. Sumringah. Bahagia.
“Lucu banget deh ngeliat para manusia itu rebutan jabatan. Hihihih!”
“Gua sih spesialis bidang pendidikan, banyak yang beli ijasah aspal! Bahkan doktor dan profesor!”
“Mereka berantem soal duit perumahan! Hahahah!”
“Mereka teler sabu-sabu!”
“Main api! Selingkuh! Uhuy!”
“Wah, korupsinya makin canggih lo di bulan puasa! Buat beli kolak dan baju lebaran!”
“Kursi sudah jadi tuhan! Asyiiik!”
“Yang ngelamar nyogok, yang dilamar disogok. Goblok, ya!”
“Ada yang lebih bego. Bikin laporan salah ketik melulu!”
“Mereka pasang nama-nama tuhan, lalu mereka kencingi sendiri! Dasar culun!”
“Aghjertut bluk dog jer bup hik. Angob!”
“Slamakotik patunge bercakik hatik tad glem jok tut!”
“Mambu. Glek cpnsd limelas jute. Hihihih!”
“Cubluk! Blakikok foph gerrz!”
“Hiya, dokunewahdsguikblep tul mentul cokhop gub bledeh.”
“Wuih beregok huik ngebor!”
“Poke boljug! Ntut psing moraliteit religine jbug bloh kuh!”
“Brujut jrut. Hoek…!”
“Mukelu jaoouh. Hahahah!”
“Bagus!” seru Hantu Gundul Krempeng sambil goyang ngebor goyang ngecor. “Teruslah bekerja dengan cerdas dan seksama. Kita porak-porandakan sendi-sendi kehidupan mereka yang rapuh itu. Kita hina-dinakan mereka! Bikin mereka mabuk paling mabuk. Jerumuskan mereka dalam kubangan lumpur kotor hitam bau yang mereka sangka istana emas harum. Mereka sesungguhnya payah tapi pongah! Mereka sesungguhnya dungu tapi belagu! Mereka sesungguhnya…”
Hantu Gundul Krempeng menengadah ke langit pekat.
Sunyi selusin detik.
“Bukan manusia,” desis Hantu Gundul Krempeng.
“Tapi juga bukan hantu!” seru hantu-hantu.
“Mereka sesungguhnya tiada.”
“Menyedihkan.”
“Sungguh malang.”
“kaciaaaan deh lu!”
“Huahahahehehihihohoho…!”
***
DI pojok paling gelap, sesosok hantu memperhatikan kesenangan pesta itu. Raut wajahnya mengeras menahan geram, matanya merah berkobar-kobar. “Si Gundul Krempeng itu benar-benar manusia Belewuk. Bahkan menyaru sebagai hantu pun dia sangat lihai,” gumamnya. “Dia harus segera ditumpas!”
“Sabar, sayang. Aku sudah tahu kok siapa dia sebenarnya. Aku juga sudah tahu kelemahannya. Biarkan dia bersenang-senang dahulu. Kesenangan akan membuatnya lengah dan lemah,” bisik Hantu Ratu Pistol alias Atun alias Ratu Surgawi Khasiatun, tersenyum manis.
Hantu Mata Merah Berkobar-kobar menghunjamkan tatapannya dalam-dalam, mencari rahasia tersembunyi di balik kebeningan mata Hantu Ratu Pistol. Dan yang ditemukannya adalah kedipan mata selaksa makna.
“Mari, honey …”
“Ah, kamu …”
Dan sambil bergandengan tangan mereka pun melangkah ke kegelapan.***
Serang, 2003
- Dibukukan dalam Dongeng Sebelum Tidur, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2005.
[1] Mungkin bocah berseragam putih-biru itu sangat terpengaruh Dendang Zarathustra-nya Nietschze sehingga menuliskan kalimat seperti itu, pelintiran dari kalimat got is tot (Tuhan sudah mati).
Langganan:
Komentar (Atom)