Senin, 26 Mei 2008

Remembering Cilacap (Part I)

Pada tahun 1996 sampai dengan 1997 (kurang lebih 10 bulan), saya bertugas di Cilacap sebagai accounting and administrator pada proyek perluasan PT. Semen Nusantara, dimana perusahaan tempat saya bekerja adalah salah satu sub-kontraktor dari perusahaan korea (Sukwon Industrial, Co. Ltd.) di bidang penyedia jasa tenaga kerja (labour supply) yang berkantor pusat di Jakarta.

Sebagai seorang yang menjadi wakil perusahaan, tentu saja saya dituntut untuk melaksanakan dengan baik tugas yang diamanahkan oleh pimpinan kepada saya.

Cilacap, kota kecil tetapi banyak menimbulkan kenangan yang tak terlupakan hingga saat ini, untuk meninggalkan kota Cilacap terasa berat bagi saya pada waktu itu tugas saya telah berakhir pada sekitar bulan Maret 1997.

Banyak hal yang membuat saya selalu teringat akan Cilacap, dari mulai kondisi sosial budaya, makanan (sate seleko, soto gentong dan tempe mendoan favorit saya, belum lagi kerupuk tenggiri yang pabriknya terletak di Jl. Rinjani dan udang besar yang saya beli di teluk penyu pada sore hari kemudian di goreng dan disantap dengan saus sambal dan kecap secara bersama-sama di tempat kost saya di Jl. Mertasinga, depan pasar Limbangan, Cilacap Utara), Minuman Ciu atau Pletoknya Mas Pardi dan tentunya daerah Slarang (hahaha…..zaman jahiliyah!).

Ibu kost saya bernama Ibu Daliyah, membuka warung makan dengan menu utama ayam goreng kampung asli (bener-bener kampung!), jangan ditanya mengenai kelezatan dan kenikmatan masakan khas Ibu Daliyah (dijamin maknyuss) selain ayam goreng kampung adapula kluban (urap) hanya saja ditambahkan kecombrang dan tetap memakai parutan kelapa sebagai campurannya (wuihh…membayangkannya saja sudah membuat perut saya lapar lagi :d), warung makan Ibu Daliyah ini sangat terkenal di Cilacap hingga ke Purwokerto, dengan harga terjangkau pula.

Sedangkan suaminya, Bpk. Suparto (kalau saya tidak salah…hihi) mempunyai tambak ikan gurame kira-kira berjarak 1 kilometer di belakang rumah.

Ibu Daliyah dikaruniai seorang anak laki-laki semata wayang, usianya pada waktu itu bertaut 3 tahun lebih tua (pada 1997 saya berusia 21 tahun dan lajang!) daripada saya dan sudah 1 tahun menikah tetapi belum dikaruniai anak.

Anak Ibu Daliyah bernama Mike Dafur Afifi dengan panggilan akrab Darsan, istrinya bernama Mimin (pada tahun 1998, Darsan mengalami kecelakaan tragis pada malam hari di daerah Menganti, + 5 kilometer dari arah rumahnya, yang tragisnya mobil trailer yang sedang parkir di tabrak oleh motor Yamaha RX-King yang dikendarai olehnya dan mengakibatkan hancur berantakan tubuh Darsan, sedemikian keras benturan yang di alami, maklum saja kecepatan motornya pun demikian kencang ditambah pada waktu itu almarhum berada dalam pengaruh alkohol. Semoga Allah S.W.T mengampuni segala kesalahnnya dan menerima segala amal baik perbuatannya. Amien…..dan pada dasarnya Darsan adalah anak yang baik, terakhir kali saya bertemu di Cilegon + sekitar 3 bulan sebelum beliau wafat. Darsan bagi saya adalah seorang sahabat dan juga saudara, sedangkan Mimin terakhir kali saya dengar beritanya sudah menikah lagi pada tahun 2004 sekembalinya dari bekerja di Taiwan). Beuh, saya jadi sangat melankolis ketika menuliskan ini….hiks.

Back to topic!

Saya menempati kamar depan, pada waktu itu saya hanya membayar seratus lima puluh ribu rupiah tiap bulannya, sudah termasuk makan sepuasnya di warung Ibu Daliyah (alamak, murah kali!. Ya iya laah…..masa Ya Iya Dong!), kalau mau pakaian di cucikan dan disetrika hingga rapi oleh mbak yang membantu pekerjaan di rumah Ibu Daliyah, saya hanya cukup menambahkan lima puluh ribu rupiah untuk upah setiap bulan plus detergent tentunya.

Rumah dan tanah pekarangan Ibu Daliyah demikian luasnya, selain tempat parkir yang terletak di depan rumah dan sebelah warung luasnya + 50 meter persegi, juga terdapat rumah kontrakan disebelah kanan warung yang ditempati oleh Pak Mantri Kesehatan beserta anak-anaknya (Mbak Sri dan Mas Waluyo dengan 2 anak, Yanto anak bungsu yang sekolah di Akademi Perawat, juga tinggal saudara perempuan yang membantu di rumah itu yang duduk di kelas 3 SMP). Pak Mantri sendiri adalah suami dari Ibu Atun (ibu tiri dari Mayangsari, istri kedua dari Bambang Tri , yang artis itu lho!).

Sedangkan bangunan sebelah kiri ada bangunan yang berupa toko dan di kontrak oleh studio photo (cuci cetak), dan sebelahnya lagi Mie Ayam yang hanya buka pada sore hari dan tutup menjelang malam, yang saya ingat minuman utamanya adalah es soda gembira (sekarang studio photo atau cuci cetak itu telah beralih fungsi menjadi rumah yang ditempati oleh mbak Sri dan mas Waluyo beserta keluarga, karena rumah yang di kontrakan kepada pak mantri sekarang telah dibongkar). Terakhir kali saya berkunjung ke Cilacap pada tahun 2000.

Pada malam hari biasanya sesekali saya nongkrong dan ngobrol ngalor-ngidul tentang segala hal dari mulai obrolan yang ringan sampai obrolan politik (pada waktu itu masih dibawah kendali pemerintahan orde baru, dimana topik yang sedang hangat adalah tentang PDI Perjuangan pimpinan Ibu Megawati) bersama pemuda sekitar (ada mas Tri, mas Pentong, mas Gembul, mas Menod, mas Dedi, dan mas-mas yang lainnya) di warung kopi dan mendoan di seberang rumah dan terletak di pinggir jalan raya, sekitar pasar Limbangan. Dan kalau lagi kumat tegangan tingginya, kami biasanya meluncur ke daerah Slarang atau ke tempat mas Pardi yang menyediakan minuman Pletok atau Ciu (hahaha…..semoga Allah S.W.T mengampuni segala dosa-dosa saya bersama kawan-kawan Cilacap saya di tempat itu).

Sesekali jalan-jalan di pusat perbelanjaan di kawasan tengah kota (Rita Dept. Store) sambil ngeceng-ngeceng pelayannya :d, karaoke dan dugem di kalidonan atau Ciptorini, atau pada sore hari saya bermain skate board di jalan aspal pantai Teluk Penyu dekat benteng Pendem, salah satu kawasan wisata pantai di Cilacap, atau pantai Srandil di malam hari (pada waktu itu saya kesana kebetulan ada gamelan Jawa, karawitan lengkap dengan sinden melantunkan tembang-tembang jawa. Mitosnya di kawasan pantai Srandil, apabila ingin laris dan menjadi sinden terkenal juga para dalang wayang kulit tentunya, tempat itu adalah tempat keramat yang akan mewujudkan segala keinginan…hmmm. Juga yang saya dengar, Bapak Presiden pertama kita Paduka Yang Mulia Ir. Soekarno dan Bapak Presiden kedua kita Bapak H.M Soeharto juga sering mengunjungi pantai Srandil untuk tetirah guna mendapatkan wangsit, katanya lho!).

Yang saya sesalkan saya belum pernah menginjak yang namanya pulau Nusakambangan, katanya keindahan alam disana cukup eksotik dan mengagumkan.

Tidak ada komentar: