Rabu, 09 November 2011

Journey to Ujung Kulon

Sabtu, 29 Oktober 2011



Dari sejak jam 5.30 subuh sehabis mengantar jama'ah haji kloter 48 di Ciwaru, Serang Banten dalam keadaan belum tidur layaknya orang normal, saya sudah berada di depan pintu tol Serang Timur menunggu jemputan menuju Ujung Kulon.

Sekitar 20 menit akhirnya yang ditungu datang juga, kemudian kami bertiga (kang Irham, Kang Dayat dan Saya) langsung menuju kerumah kang Sigit untuk menjemput. Setelah itu barulah kami berempat menuju Ujung Kulon dan sebelumnya transit di pomp bensin daerah Pal Lima untuk mengisi bensin dan menunggu team yang punya hajat ke sana.

Perjalanan dari kota Serang sampai Cibaliung kami selingi dengan obrolan-obrolan ringan, namun tak lepas dari fokus kami untuk mengolah Banten dari sudut pariwisata...ya, daerah tujuan wisata khusus!. Kondisi jalan dan infrastruktur dari kota Serang sampai kecamatan Sumur memang tak semulus wajah ibu Gubernur setelah di make-up, namun cukuplah mulus bagi kami. Tetapi sejak dari kecamatan Sumur sampai ke Taman Jaya barulah terasa sekitar kurang lebih 20 kilometer jalan berubah menjadi kasar, ditambah Toyota Avanza yang kami kendarai tidaklah cukup nyaman dengan kondisi jalan seperti itu, berbatu penuh lubang! Dalam obrolan yang diselingi dengan anekdot-anekdot, kami berempat sempat sesambat kepada ibu Gubernur..."ini bukan lagi diteruskan, namun memang belum mulai pembangunan untuk kawasan ini,".



Pas adzan Dzuhur tibalah kami di Desa Taman Jaya, berarti kurang lebih 6 jam perjalanan dari serang ke tempat ini dalam kondisi santai. Kami langsung menuju ke penginapan yang dikelola oleh Koperasi warga setempat yang letaknya tidak begitu jauh dari sisi pantai dengan pemandangan segar. Tidak kami temukan suasana seperti ini di kota besar tentunya. Ada sekitar 4 kamar dengan 2 buah tempat tidur, bangunan yang berbentuk panggung dan berdinding bata merah nan asri, dengan kisaran harga sekitar 150 ribu rupiah permalam. Di seberangnya ada sebuah rumah tembok permanen berjumalah 4 kamar juga dengan 2 tempat tidur. Tak jauh dari penginapan tersebut, terdapat dermaga yang bisa mengantarkan ke seberang pulau (P. Peucang, P. Haneuleum, P. Umang, dan Taman Nasional Ujung Kulon) dengan perahu motor berkapasitas sekitar 25 orang.



Hujan pun kemudian turun, kami yang memang sejak tadi berteduh di penginapan yang berbentuk panggung itu, dengan alas lantai bambu akhirnya hanya bisa menikmati saja dengan segelas kopi dan teh manis hangat diselingi sajian gorengan pisang molen. Sambil memesan nasi panas dengan lauk ikan asin peda putih, telor ceplok dan lalab ala kadarnya (terong bulat dan ketimun) ditambah sambal segar dan krupuk, lantas menyantap dengan lahapnya hidangan tersebut di sela hujan, makan siang sekaligus sarapan! dan setelah itu sayapun tertidur pulas saking lelahnya, tak peduli dengan team yang ngobrol ngalor-ngidul dengan urusannya.....dan saya baru terbangun sekitar jam 3 sore.



Setelah beres urusan di Desa Taman Jaya, sekitar jam 4 sore kami pamit menuju pulang ke Serang, jalan batu dan berlubang ditambah hujan deras membuat genangan air bak kolam ikan. Lagi-lagi kami keluarkan joke-joke seputaran pembangunan di Provinsi Banten, khususnya daerah ini. Sekitar 10 kilometer tibalah kami di pantai Ciputih (Ciputih Beach) sekedar ambil foto dan mengumpulkan informasi penginapan tersebut. Harganya lebih murah di banding dengan kawasan Anyer, mungkin bisa diatas satu juta rupiah permalam kalau di Anyer dengan fasilitas dan suasana seperti ini.



Kanan dan kiri rumah-rumah penduduk yang terbuat dari bilik bambu dan beberapa rumah yang terbangun dari tembok dengan jarak yang tidak terlalu padat. Gunung yang menjulang dan pantai yang menghampar luas merupakan pemandangan yang membuat kami tak bosan dan jenuh melihat rumah-rumah penduduk sekitar yang tergolong miskin, namun dengan adanya antene parabola di halaman rumah menandakan warga terpencil ini ingin melihat dunia luar melalui televisi.



Selepas Isya kami tiba di Labuan dan singgah di rumah makan Astri yang menyajikan hidangan ikan laut, cumi dan udang bakar, tak ketinggalan juga otak-otak dengan bumbu kacang! kami pun makan dengan lahapnya. Setelah itu lanjut menuju Serang dan Cilegon ke rumah masing-masing. Besok lusa kami datang lagi kemari.



Entahlah ibu Gubernur atau calon-calon Gubernur lainnya, pernahkah singgah ke daerah ini atau tidak, atau mereka hanya menutup mata? Padahal potensi pariwisata yang ada di daerah ini tak kalah dengan Bali, dan kalau di olah dan dikelola secara benar, maka kesejahteraan penduduk pun akan meningkat.

Dinas Pariwisata Provinsi Banten yang mempunyai concern mengembangkan daerah ini, patutlah didukung. Namun perlu adanya sinergi antara dinas Bina Marga, PU, dan instansi terkait lainnya. Utamanya infrastruktur dan juga peranan penduduk sekitar agar tidak hanya sekedar menjadi penonton.





Cilegon, 31 Oktober 2011

catatan perjalanan



Photo-Photo : ="http://www.facebook.com/media/set/?set=a.292479780763940.80633.100000057606522&type=3"

Tidak ada komentar: