Kamis, 05 Januari 2012

Transformasi diri seorang pemimpin

Seorang Menteri Norwegia, Raymon Johansen, seorang politisi muda yang enerjik, kompeten, charmingdan populer. Dengan bangga menjawab pertanyaan dari Dr. Dino Patti DJalal ketika ditanya apa pekerjaan beliau sehari-harinya sebagai "Tukang ledeng!".
Semua orang, apapun pendidikan dan pekerjaannya, dapat menjadi seorang pemimpin. Namun begitu menjadi pemimpin, ia harus bisa beradaptasi terhadap tuntutan tugas barunya.

Paul Wolfowitz (mantan dubes AS di Indonesia, Menhan AS dan Presiden Bank Dunia), pernah menyatakan pada Dr. Alwi Shihab, waktu itu beliau Menlu pada era Gus Dur, "bahwa tantangan Gus Dur yang paling utama adalah bagaimana beliau dapat berpikir, berucap dan bertindak sebagai Presiden Republik Indonesia dan bukan lagi berpikir, berucap dan bertindak sebagai Kiai tersohor atau komentator yang cerdik". Ucapan Paul Wolfowitz tersebut tidak saja berlaku bagi Gus Dur, tapi bagi semua orang yang ingin menjadi pemimpin yang efektif. Yang penting bukan apa pekerjaan sebelumnya, namun apakah seseorang mampu melakukan transformasi diri dalam lingkungan barunya.

Dengan itulah, Lech Walesa, seorang tukang listrik di pelabuhan Gdansk, sukses menjadi Presiden Polandia dan memenagkan Nobel Perdamaian. Dengan itulah, Ronald Reagen, seorang aktor berkelas B di Hollywood, dapat menjadi Gubernur California dan kemudian Presiden AS yang meluncurkan 'Reagen Revolution.' Dan dengan itulah, Vladimir Putin, seorang agen KGB, menjadi Presden Rusia yang paling sukses.

Di Indonesia, satu contoh trransformasi diri yang menajubkan adalah Panglima Besar Jenderal Soedirman, yang mengalami berbagai transformasi diri : dari seorang guru dan Da'i, menjadi tokoh kepemudaan, menjadi Daidancho PETA dan kemudian Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat, pemimpin gerilya yang sangat ulung dan akhirnya pahlawan nasional yang abadi.

Dalam setiap kasus ini, mereka berhenti berpikir sebagai buruh, aktor, agen, atau guru dan mulai bersikap sebagai pemimpin negara. Disini, mereka yang beruntung dilahirkan dalam dinasti politik memang mempunyai kelebihan tersendiri, karena mereka sudah terbiasa dengan kehidupan sehari-hari dunia pemerintahan dan suasana protokoler kenegaraan yang penuh kemegahan.

Hal ini pasti dirasakan oleh sederetan pemimpin dunia yang ayah atau ibunya juga pemimpin negara : almarhum Benazir Bhutto, George W. Bush, Gloria Macapagal Arroyo, Megawati Soekarnoputri, almarhum Rajiv Gandhi, almarhum Indira Gandhi, Lee Hsie Loong, dan Yasuo Fukuda.

Namun keharusan 'transformasi diri' tetap berlaku bagi mereka: begitu mereka menjadi pemimpin negara, mereka harus segera keluar dari kungkungan nama dinasti keluarga dan mengukir prestasinya sendiri. Dalam proses pembuatan keputusan sehari-hari, faktor yang paling menentukan adalah judgement, bukan keturunan.

diambil dari : Catatan Harian Dr. Dino Patti Djalal dalam buku "HARUS BISA! : Seni memimpin a la SBY - Jilid 2 (Pemimpin Harus Bisa Melakukan Transformasi Diri, Hal. 41-43 "

1 komentar:

Puska Tanjung Blog mengatakan...

top markotop. Tapi kurang mendalam penjabarannya.